display litra

Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah

Informasi ini dikutip dari buku pelajaran sejarah kebudayaan Islam,  untuk MTs Kelas 2 Bab 1 semester Ganjil oleh Mahrus As'ad dan Ada Nursahad.

Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Sejarah kebudayaan Islam

Asal usul Bani Abbasiyah

Nama Abbasiyah diambil dari nama paman Nabi Muhammad saw, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib sebagai penghormatan yang diberikan kepadanya dari anak dan cucu beliau yang berhasil membangun sebuah pemerintahan Islam, yaitu Daulah Islamiyah Abbasiyah. Penggagas pertama berdirinya dinasti ini adalah Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf bin Hasyim. Walaupun Ali bin Abdullah tidak sempat mewujudkan berdirinya Dinasti Abbasiyah, namun anak cucunya berhasil meneruskan dan mewujudkan cita-cita Ali bin Abdullah tersebut setelah melalui perjuangan dan proses yang sangat panjang. Dengan demikian para pendiri dinasti ini masih keturunan Bani Hasyim seperti halnya Rasulullah saw.

Saat Rasulullah saw, menyebarkan Islam di Makkah, antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah sering terjadi pertentangan dan persaingan. Selain karena Bani Umayyah berasal darn golongan hartawan, mereka pun menjadi penentang kuat dakwah Rasulullah Sedangkan Bani Hasyim merupakan pendukung utama Rasulullah saw dalam menjalankan dakwahnya.

Setelah masa Khulafaur Rasyidin berakhir dan pemerintahan Islam berada di bawah kekuasaan Bani Umayyah. Mereka mengubah sistem peralihan kekuasaan Islam yang demokratis menjadi dinasti turun-temurun dan keluarga Bani Hasyim merasa yang paling banyak dirugikan. Terlebih lagi perlakuan para penguasa Bani Umayyah terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya yang sangat diskriminatif. Atas alasan itulah beberapa tokoh dari Bani Abbas (keturunan Abbas) sangat berambisi untuk merebut kekuasaan dari Bani Umayyah.

Sejarah berdirinya Dinasti Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah berdiri melalui proses yang amat panjang dan berliku. Sebelum Dinasti Umayyah digulingkan, Bani Abbas telah memosisikan diri sebagai oposisi yang menyebarkan propaganda anti-pemerintahan Bani Umayyah. Gerakan oposisi tidak hanya datang dari Bani Abbas saja, tetapi juga dari kaum Syi’ah yang memiliki luka mendalam dan ingin menuntut balas atas terbunuhnya Husain bin Ali di Karbala dan kaum Mawali yang menuntut hak persamaan dan keadilan dari pemerintahan Bani Umayyah.

Salah seorang keluarga Bani Abbas bernama Ali bin Abdullah bin Abbas sangat berambisi merebut kekuasaan dari penguasa Bani Umayyah. Sebagi sepupu Rasulullah saw. ia merasa yang paling berhak memegang tampuk kekuasaan Islam setelah Khulafaur Rasyidin. Untuk mewujudkan keinginannya, ia melakukan taktik dan strategi yang lambat namun pasti. Menurutnya, pemindahan kekuasaan dari satu kelompok kepada kelompok yang lain harus mendapat dukungan dari rakyat secara luas dan menyeluruh.

Ali bin Abdullah melakukan propaganda anti Bani Umayyah kepada masyarakat luas. Ia mendidik para kader untuk menjalankan misi propagandanya. Untuk mendapatkan simpati rakyat, Ali bin Abdullah meminta pendukungnya untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat agar membantu keluarga Rasulullah saw, yang telah diperlakukan tidak adil selama pemerintahan Bani Umayyah. Namun sayang, sebelum mewujudkan cita-citanya, Ali bin Abdullah wafat tahun 124 H/742 M.

Cita-cita Ali bin Abdullah selanjutnya diteruskan oleh putranya yaitu Muhammad bin Ali. Ia melakukan usaha-usaha propaganda anti-pemerintah Bani Umayyah sebagaimana yang telah dilakukan ayahnya. Muhammad bin Ali menjadikan Kota Kuffah dan Khurasan sebagai benteng pertahanan Bani Abbas. Kedua kota ini dianggap sebagai tempat yang strategis karena banyak dihuni oleh masyarakat muslim non-Arab (’Ajam) yang merasa tidak puas dengan pemerintahan Bani Umayyah yang memperlakukan mereka secara tidak adil. 

Usaha Muhammad bin Ali ini tenyata benar-benar mendapat dukungan kuat dari masyarakat muslim non-Arab. Bahkan melalui pimpinan mereka, yaitu Abu Muslim al-Khurrasani, mereka siap mendukung usaha dan gerakan Bani Abbas. Namun, sayang Muhammad bin Ali pun meninggal tahun 127 H/ 745 M sebelum dinasti Abbasiyah terbentuk.

Sepeninggal Muhammad bin Ali, putranya Ibrahim bin Muhammad bertekad melanjutkan usaha-usaha pendahulunya. la pun melakukan propaganda anti pemerintah Bani Umayyah. Usahanya mendapat dukungan dari kalangan masyarakat luas. Terutama dari kaum Syi’ah yang sangat tertekan sepanjang Bani Umayyah berkuasa, karena mereka pendukung setia ’Ali bin Abi Thalib yang menjadi musuh utama Mu’awiyah bin Abi Sufyan, pendiri dinasti Bani Umayyah. Kaum Syi’ah siap membentengi Ibrahim bin Muhammad dalam upayanya menggulingkan pemerintahan Bani Umayyah.

Karena usahanya yang amat gigih dan mendapat dukungan dari kalangan luas, terutama yang merasa kecewa dengan Bani Umayyah, Ibrahim bin Muhammad dapat menguasai wilayah Kuffah, Basrah, Makkah, dan Madinah. Melihat kondisi tersebut, Khalifah Marwan II, khalifah terakhir Bani Umayyah menganggapnya sebagai ancaman dan ia mengirim pasukan untuk menangkap Ibrahim bin Muhammad.

Ibrahim ditangkap oleh pasukan Umayyah lalu diasingkan dan meninggal tahun 128 H/746 M.

Penangkapan Ibrahim bin Muhammad menimbulkan dendam serta membangkitkan kemarahan dan semangat dua saudaranya, yaitu Abu Abbas as-Safah dan Abu Ja’far al-Mansur. Pada tahun 129 H / 747 M, dibantu oleh Abu Muslim al-Khurrasani, mereka melakukan pemberontakan dan penyerangan besar-besaran di kota-kota penting pemerintahan Bani Umayyah. Abu Muslim al-Khurrasani memimpin pemberontakan di Damaskus, ibu kota negara, Abu Abbas as-Safah memimpin pemberontakan di Mesir, dan Abu Ja’far al-Mansur bersiap menangkap pasukan Bani Umayyah yang melarikan diri.

Khalifah Marwan ll terkepung di Kota Damaskus, namun akhimya ia berhasil melarikan diri ke Yordania lalu ke Palestina. Namun pasukan pemberontak terus mengikutinya dan menaklukan setiap kota ke dalam kekuasaan Bani Abbasiyah. Maka tidak ada lagi tempat baginya untuk melarikan diri selain Mesir yang kebanyakan penduduknya tidak menyukai pemerintahan Bani Umayyah akibat kekejaman dan ketidakadilan yang mereka terima. Maka tidak memerlukan waktu yang lama, Khalifah Marwan II dihadang oleh pasukan Abbasiyah yang dikirim oleh Abu ’Abbas as-Safah. Pada tahun 132 H/750 M Khalifah Marwan II dapat ditangkap di kota kecil bernama al-Askar sebelah timur Kota Fustat, ibu kota Mesir saat itu. Selain itu simbol-simbol kejayaan mereka sampai kuburan Mu’awiyah bin Abi Sufyan turut dihancurkan.

Dengan meninggalnya Khalifah Marwan ll, berakhirlah kekuasaan Dinasti Umayyah di Damaskus dan berdirilah Dinasti Abbasiyah. Khalifah pertama Dinasti Abbasiyah adalah Abu Abbas as-Safah yang memerintah tahun 132-136 H/ 750-754 M. 

Pada awal pemerintahannya, Dinasti        Abbasiyah menjadikan kota al-Hasyimiyah dekat Kuffah, Irak sebagai pusat        pemerintahannya. Namun, sejak zaman Khalifah Al-Mansur, khalifah ke-2 dari daulah ini ibu kota Abbasiyah dipindahkan ke Baghdad.

Di masa pengejaran keluarga Bani Umayyah dan para pengikutnya oleh Abu Abbas as-Safah, ada seorang keturunan Bani Umayyah yang berhasil meloloskan diri, yaitu Abdurrahman bin Mu‘awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik. Beliau merupakan khalifah ke-10 di Damaskus yang lebih dikenal dengan sebutan Abdurrahman ad-Dakhil. yang berhasil masuk ke Spanyol dan mendirikan Dinasti Umayyah II yang berpusat di Andalusia, Spanyol.

Tokoh-tokoh yang berjasa dalam pendirian Dinasti abbasiyah 

adalah: 
1. A Ali bin Abdullah
2. Muhammad bin Ali
3. Ibrahim bin Muhammad
4. Abu Abas As-Safah
5. Abu Ja’far Al-Mansur
6. Abu Muslim Al-Khurrasani

Daftar Pustaka
Matsu Dkk 2017, Sejarah Kebudayaan Islam. Bandung, Erlangga. 


0 Response to "Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel