Gadai Terlengkap: Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat

Pengertian Gadai

Dalam bahasa Arab, gadai disebut dengan rahn. Secara etimologi ia biasanya disebut untuk hal yang menunjukkan kepercayaan (tsubut) dan kelanggengan (dawem). la pun bisa berarti menahan. Seperti ayat, Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS Al-Thur 52: 21). la berarti tertahan. 

Gadai Terlengkap: Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat
Gadai

Adapun menurut terminologi, para ahli fiqih mendefinisikannya dengan, ”Menjadikan barang sebagai jaminan utang yang bisa diambil harganya jika utang tidak bisa dilunasi”. 

Landasan Hukum 

Secara asal, gadai adalah boleh (ja'iz) dan disyariatkan. Hal tersebut berdasarkan keterangan dari AI-Qur'an, Sunnah, dan ijma’. 

Keterangan dalam AI-Qur'an adalah: 

jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, hendaklah ada barang tanggungan (gadai) yang dipegang (oleh yang berpiutang) (QS Al-Baqarah 2: 283). 

Adapun keterangan dalam Sunnah adalah: 

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Aisyah r.a. pernah berkata, ”Sesungguhnya Rasulullah Saw, pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dan menggadaikannya dengan baju perang dari besi. ” 

Anas r.a. pernah berkata, ”Rasulullah Saw. pernah menggadaikan baju perang pada seorang Yahudi di Madinah dan membelikannya dengan gandum untuk keluarganya.” (HR Al-Bukhari) 

Dalam hadis riwayat Al-Bukhari diterangkan bahwa ketika Rasulullah Saw. wafat, baju perangnya masih digadaikan di orang Yahudi sejumlah tiga puluh sha gandum. 

Adapun keterangan ijma’ adalah, umat Islam semenjak zaman Rasulullah hingga zaman sekarang melakukan gadai dan menganggapnya sebagai salah satu muamalah yang dilegalkan oleh syariat. 

Rukun Gadai 

Gadai memiliki empat rukun, yaitu: 

1. Orang yang menggadaikan (rahin). la adalah orang yang berutang. 

2. Orang yang menerima gadai (murtahin). la adalah orang yang memberikan piutang. Gadai bagi murtahin bukan sebuah kewajiban. Karena, gadai dilakukan sebagai jaminan bagi piutang hingga rahin bisa melunasi utangnya. Jika ada jaminan lain selain gadai, murtahin boleh mengembalikan barang gadaian kepada rahin. Rahin dan murtahin boleh membuat kesepakatan untuk menyimpan barang gadaian di pihak ketiga. 

3. Barang gadaian (marhun/rahn). Barang gadaian disyaratkan bisa melunasi utang. Jika rahin tidak bisa melunasi utangnya hingga tempo waktu yang disepakati, barang gadaian boleh dijual untuk kemudian hasil penjualannya diambil sesuai dengan jumlah utang rahin. 

4. Utang (marhun bih). la adalah nilai atau barang yang dipinjam oleh rahin dari murtahin. 

5. Kontrak (shighah) berupa ijab-qabul. 

Syarat Gadai 

Syarat gadai ada yang berkaitan dengan utang, barang, kontrak, dan pembuat kontrak. 

Syarat Utang

1. Harus benar-benar utang. Hal ini karena Allah menerangkan gadai dalam utang-piutang Dengan demikian, ia tidak boleh dilakukan selain utang. Oleh karena itu, gadai tidak boleh dilakukan dalam harta yang dirampas dan harta titipan orang lain. 

Utang harus benar-benar ada (tsabit). Hal ini berarti gadai tidak boleh dilakukan jika utang tidak ada. Seperti menggadaikan barang untuk utang yang akan dipinjam besok. Hal ini karena gadai adalah jaminan hak. Dengan demikian, ia tidak boleh dikedepankan. 

Utang harus dalam bentuk kelaziman atau akan menjadi sebuah kelaziman. Dengan demikian, gadai tidak boleh dilakukan dalam upah pekerjaan yang belum diselesaikan karena utang tidak dalam bentuk kelaziman. 

Utang harus diketahui jumlah, jenis, dan sifatnya. Jika tidak diketahui, gadai menjadi tidak sah. 

Syarat Barang Gadaian 

Para ahli fiqih sepakat bahwa barang gadaian disyaratkan harus bisa melunasi utang. Jika barang gadaian dan utang sama, barang diambil untuk melunasi utang. Jika barang gadaian dan utang tidak sama, barang gadaian dijual untuk kemudian harganya diambil sesuai dengan jumlah utang. 
Syarat Kontrak 

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kontrak (shighah) dalam gadai tidak boleh digantungkan kepada syarat dan dikaitkan kepada waktu masa depan. Karena, gadai mirip dengan jual-beli dari segi melunasi utang dan mengambil piutang. 

Syarat Pembuat Kontrak 

Pembuat kontrak, baik rahin ataupun murtahin disyaratkan baligh, berakal, dan memiliki barang yang akan digadaikan. Gadai bagi rahin adalah sebuah keharusan jika ia tidak memiliki harta lain untuk melunasi utangnya. Namun, ia tidak menjadi sebuah keharusan bagi murtahin. Karena, murtahin mengambil gadai sebagai jaminan bagi piutangnya. Jika ia mendapatkan hal lain selain gadai untuk mendapatkan piutangnya, ia boleh mengembalikan barang gadaian kepada rahin. 

Memanfaatkan Barang Gadaian 

Barang gadaian tetap menjadi milik rahin. la disimpan di murtahin hanya sebagai jaminan utang, bukan untuk memindahkan hak milik. Dengan demikian, jika barang gadaian mengeluarkan hasil, seperti hewan yang mengeluarkan susu dan tanaman yang mengeluarkan buah-buahan, hasil tersebut tetap menjadi milik rahin. Murtahin tidak boleh mengambil hasil tersebut. Jika mengambil, ia adalah pinjaman yang menyebabkan manfaat dan akan mengakibatkan jumlah utang yang harus di bayar menjadi bertambah. Dan, hal tersebut masuk ke dalam riba yang diharamkan oleh Islam. 

Jika murtahin mengeluarkan biaya operasional untuk menjaga barang gadaian, seperti memberi makan hewan dan menjaga barang agar tidak rusak, ia berhak meminta ganti biaya operasional tersebut dari rahin atau memanfaatkan barang tersebut sesuai dengan jumlah biaya operasional yang dikeluarkan. Namun dengan syarat, ia tidak boleh mengambil atau memanfaatkan barang lebih banyak dari biaya operasional. Jika mengambil lebih ia termasuk ke dalam riba. Karena, ia akan ia mengambil lebih banyak dari jumlah utang yang dimiliki oleh Rahin kepadanya

Tentu hal ini, Rasulullah Saw. pernah bersabda" Gadai tidak boleh dimiliki dari pemiliknya yang menggadaikannya. Baginya keuntungannya dan baginya kerugiannya. " (HR Ibnu Abi Syaibah, Al-Baihaqi Al-Hakim dan yang lainnya). 

Hewan ditunggangi dengan biayanya jika ia digadaikan. Dan susu hewan diminum dengan biayanya jika ia digadaikan. Dan kepada orang yang meminum dan menunggangi (harus mengeluarkan) biaya.” (HR Al- Tirmidzi, Abu Daud, Ibn Majah). 

Post a Comment for "Gadai Terlengkap: Pengertian, Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat "