display litra

Perkembangan Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah

Pada tulisan kali ini akan di jelaskan  perkembangan peradaban yang terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah berikut penjelasannya:

Masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang cukup lama antara tahun 132-656 H/750-1258 M memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan peradaban Islam. Pada saat itu, telah banyak kemajuan yang dicapai oleh dinasti ini sehingga menempatkan posisi Daulah Abbasiyah menjadi pusat perhatian dunia dalam berbagai bidang.

Perkembangan Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah
Sejarah kebudayaan islam


Perkembangan peradaban yang terjadi pada saat itu melebihi perkembagan yang pernah dicapai oleh dinasti sebelumnya, Dinasti Umayyah/Umawiyah. Selain karena Dinasti Abbasiyah merupakan kelanjutan dari Dinasti Umayyah, juga karna kebijakan Dinasti Abbasiyah yang lebih berorientasi pada pembangunan peradaban dari pada perluasan wilayah kekuasaan. 

Seperti yang telah disebutkan pada tulisan sebelumnya, bahwa sebenamya puncak keemasan Dinasti Abbasiyah dicapai pada saat periode pertama kekuasaan mereka. yaitu di masa kepemimpinan sembilan khalifah periode pertama. Secara politik, para khalifah benar-benar tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuatan politik serta agama.

Adapun masa kekuasaan sesudahnya, kebanyakan dipimpin oleh khalifah-khalifah lemah yang banyak dikendalikan oleh orang-orang di luar Dinasti bani Abbasiyah. Walaupun demikian, dalam bidang ilmu pengetahuan Dinasti Abbasiyah terus mengalami kemajuan. 

Berikut beberapa perkembangan peradaban yang terjadi pada saat dinasti Abbasiyah berkuasa adalah sebagai berikut:
Baja juga: Sejarah Singkat Berdirinya Dinasti Abbasiyah

A. Bidang llmu Pengetahuan dan Filsafat 

Para pemimpin Dinasti Abbasiyah. terutama pada periode awal, merupakan khalifah-khalifah yang kuat secara politis dan memilki perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Periode inilah yang berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat dalam dunia Islam. Oleh karena itu, pada masa Dinasti Abbasiyah ilmu pengetahuan mengalami perkembanagan dan kemajuan yang sangat pesat. Pada masa dinasti ini pula banyak bermunculan ilmuwan-ilmuwan muslim dari berbagai disiplin ilmu. Ilmu-ilmu yang berkembang pada saat itu diantaranya adalah ilmu hukum Islam, qird’at, manthiq, sastra, matematika, kedokteran, astronomi, astrologi, filsafat, dan lain-lain. 

Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah selain disebabkan oleh perhatian khalifah yang sangat besar, juga disebabkan oleh hal-hal berikut: 

1. Terjadinya asimilasi yang bernilai guna bagi perkembangan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang memang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. 

2. Gerakan penerjemahan yang berlangsung tiga fase. Fase yang awal atau fase pertama, pada masa Khalifah al-Mansur hingga Harun ar-Rasyid. fase kedua berlangsung mulai zaman Khalifah al-Makmun hingga tahun 300 H. Fase ketiga, setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. 

Gerakan penerjemahan berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa asalnya ke bahasa Arab di masa Khalifah al-Mansur ditandai dengan dibentuknya Dewan Penerjemah. 

Bahasa Latin dan Bahasa Yunani pada tahun 141 H/761 M. Buku-buku klasik Romawi dan Yunani yang terdiri dari buku-buku filsafat, astronomi, farmasi, dan seni budaya dialih bahasakan ke dalam bahasa Arab. 

Di zaman Khalifah Harun ar-Rasyid, Dewan Penerjemah Bahasa ini ditingkatkan lagi fungsi dan peranannya dengan mendirikan Khizdnatul Hikmah tahun 180 H/796 M. Tidak hanya bergerak dalam bidang penerjemahan, tempat ini juga berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. 

Pada tahun 207 H/822 M, Khalifah al-Makmun mengembangkan fungsi Khizanatul Hikam yang didirikan oleh Harun ar-Rasyid dengan mendirikan Baitul Hikam. Tempat ini tidak hanya menjadi pusat studi orang-orang dari wilayah Daulah Abbasiyah, tetapi hampir dari seluruh penjuru dunia. Untuk mengatasi persoalan-persoalan keagamaan yang sulit dipecahkan, Khalifah al-Makmun mendirikan Majlis Munazarah. 

Landasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat yang diprakarsai oleh khalifah-khalifah terkemuka Abbasiyah ini telah memberikan peran yang besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan filsafat bagi masa-masa selanjutnya. llmuwan-ilmuwan dalam berbagai bidang dan karya-karya besar telah banyak dihasilkan dari tempat ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dan filsafat telah membawa Dinasti Abbasiyah, khususnya Baghdad sebagai ibu kota negara, menjadi tempat yang memilki peradaban tertinggi di dunia dan dikenal dengan negeri “Seribu Satu Malam”. 

B. Bidang Sosial dan Ekonomi 

Kesejahteraan seluruh warga Abbasiyah menjadi prioritas utama bagi para pemimpin dinasti tersebut dalam melaksanakan kekuasaannya, terutama pada periode awal perjalanan kekuasaan dinasti ini. Khalifah Abu Ja’far al-Mansur merupakan tokoh utama peletak dasar ekonomi Abbasiyah. Sikap adil, tegas, dan bijaksana yang dimilikinya membuat Dinasti Abbasiyah menjadi maju dalam segala bidang. 

Ketika Khalifah al-Mansur wafat, kas negara berjumlah 810.000.000 dirham. Sedangkan ketika Khalifah Harun ar-Rasyid wafat jumlah kas negara 900.000.000 dirham. Kemajuan ekonomi rakyat Abbasiyah pada masa itu disebabkan oleh usaha-usaha para khalifah yang mendorong kemajuan dalam sektor perdagangan, pertanian, dan industri. 

1. Sektor pertanian 
Untuk meningkatkan hasil pertanian, pada masa dinasti Abbasiyah telah dibangun banyak bendungan, kanal, irigasi, dan terusan untuk memenuhi dan mengatur pengairan yang dibutuhkan para petani. Hasilnya, sektor pertanian menjadi maju, penghasilan meningkat dan rakyat menjadi sejahtera. Sebagai contoh, pada masa kepemimpinan khalifah Harun ar-Rasyid, istri khalifah, Zubaidah menyaksikan penderitaan rakyat akibat kemarau panjang dalam kunjungannya ke Makkah dan Madinah. 

Atas usulan permaisuri, khalifah membangun sebuah bendungan dan terusan yang dapat mengalirkan air untuk 
kebutuhan penduduk. Akhirnya penduduk dua kota suci itu menjadi sejahtera, dan makmur. Untuk mengenang jasa permaisuri, bendungan itu diberi nama "terusan Zubaidah".

2. Sektor Perdagangan dan Jasa 
Perekonomian warga pada masa Dinasti Abbasiyah pada umumnya meningkat mulai zaman pemerintahan al-Mahdi (158-169 H/775-785 M) seiring dengan peningkatan di sektor pertanian dan hasil tambang. Hubungan luar negeri antara Dinasti Abbasiyah dan kerajaan-kerajaan lain telah membawa peningkatan tersendiri bagi Abbasiyah dalam sektor perdagangan dan jasa. 

Basrah menjadi pelabuhan penting, sebagai tempat transit antara Timur dan Barat, banyak mendatangkan kekayaan bagi Abbasiyah. Selain Basrah, ada juga pelabuhan Damaskus dan dermaga Kuffah. Hasil tambang, hasil pertanian, dan hasil industri banyak diperdagangkan di dalam maupun di luar wilayah Abbasiyah. 

3. Sektor Perindustrian 
Salah satu penyokong kuatnya perekonomian Dinasti Abbasiyah berasal dari sektor industri Para khalifah menganjurkan masyarakat untuk berlomba-lomba dalam membuat industri, baik pertambangan maupun pengolahan. 

Banyak kota yang dibangun sebagai pusat pusat industri. Basrah sebagai pusat industri gelas dan sabun, Kuffah sebagai industri tekstil, Khazakstan sebagai industri sutera, Damaskus sebagai industri pakaian jadi dari sutera bersulam, dan Syam sebagai pusat industri keramik dan gelas berukir. 

C.Bidang Pemerintahan, Politik, dan Militer 

1. Pemerintahan
Para khalifah Dinasti Abbasiyah telah meletakkan dasar-dasar pemerintahan yang kuat demi keberlangsungan kekuasaan yang panjang. Berbagai macam cara mereka tempuh demi mengamankan kekuasaan yang telah mereka raih. Walaupun para khalifah mereka pada periode-periode selanjutnya adalah khalifah-khalifah lemah yang mengakibatkan kemunduran dinasti. Pada periode awal, dinasti ini telah tampil sebagai dinasti yang kuat, berwibawah dan disegani. 

Bidang pemerintahan yang ditata pada periode keemasan Dinasti abbasiyah adalah sebagai berikut. 

a. Pengangkatan wazir (perdana menteri) dan para menteri kabinetnya yang bertugas sebagai pembantu khalifah dalam menjalankan roda pemerintahannya. 

b. Pembentukan Sekretariat Negara (Ditabah Kitabah) yang dipimimpin oleh Ra'isul Kitabah (Sekretaris Negara). Dalam menjalankan tugasnya, Ra'isul Kitabah di bantu oleh lima sekertaris pembantu, yaitu sebagai berikut: 


  1. Katib Rasail: sekretaris bidang persuratan (surat menyurat).
  2. Katib Kharraj: sekretaris bidang perpajakan dan kas negara.
  3. Katib Jundi: sekretaris bidang kemiliteran, pertahanan dan keamanan.
  4. Katib Qada: sekretaris bidang hukum dan perundang-undangan.
  5. Katib Syurtah: sekretaris bidang kepolisian dan keamanan sipil. 
c. Pembentukan departeman sebagai lembaga pembantu perdana menteri, antara lain: 

  • Diwanul Kharij: Departemen Luar Negeri 
  • Diwanul Ziman: Departemen Pengawasan Urusan Negara.
  • Diwanul Jundi: Departemen Pertahanan dan Keamanan.
  • Diwanul Akarah: Departemen Tenaga Kerja dan Pekerjaan Umum.
  • Diwanul Rasa'il: Departemen Pos dan Telekomunikasi. 

d. Pengangkatan gubernur dan penataan pemerintahan desa. Dinasti Abbasiyah membagi kekuasaannya menjadi beberapa wilayah, sesuai dengan letak geografis dan demografisnya. Setiap wilayah dipimpin oleh seorang gubernur (Amir).

Untuk memudahkan pengawasan dan koordinasi dalam melaksanakah tugas negara, di bawah gubernur dibentuk pemerintahan desa (Qaryah) yang dipimpin oleh Syaikhul Qaryah (Kepala Desa).

e. Pembentukan angkatan bersenjata yang terdiri dari angkatan darat dan angkatan laut. Setiap angkatan dipimpin oleh seorang panglima yang disebut Amirul Umara.

f. Pembentukan Baitul Mal dan lembaga kas negara yang mengelola bidang: 

  1. Perbendaharaan negara (Diwanul Khizanah) 
  2. Hasil bumi (Diwanul Azira‘ah) 
  3. Perleng kapan tentara (Diwanul  Khazinussilah) 
g. Pembentukan Mahkamah Agung, yang menangani beberapa bidang. 

  1. AI-Qadi: mengadili perkara agama, hakimnya disebut Qadi.
  2. Al-Hisbah: mengadili perkara umum, baik pidana maupun perdata, hakimnya disebut AAl-Mustahsib
  3. An-Nazar fil Mazalim: pengadilan tingkat banding setelah dari pengadilan Al-Qada atau AI-Hisbah, hakimnya disebut Sahibul Mazalim.

2. Politik dan Militer 

Berdirinya Dinasti Abbasiyah merupakan kelanjutan dari Dinasti Umayyah yang berhasil digulingkan. Dalam usahanya mendirikan sebuah dinasti, keturunan Bani Abbas banyak dibantu oleh orang-orang muslim bukan Arab, mereka umumnya berasal dari Persia. Demikian juga dengan kaum Alawiyyin yang beraliran Syi’ah memiliki andil besar dalam mewujudkan Dinasti Abbasiyah. Latar belakang tersebut memengaruhi kebijakan politik yang ditempuh oleh para khalifah. Bani Abbas di setiap periode. Mereka menempuh jalur politik yang berbeda-beda sesuai dengan 


zamannya masing-masing dan sesuai dengan kualitas kepemimpinan para khalifah tersebut.  Beragamnya kebijakan politik yang ditempuh oleh setiap periode kepemimpinan itu merupakan khazanah peradaban sendiri yang pernah di capai oleh dinasti dalam bidang politik. Usaha-usaha politik yang pernah ditempuh oleh dinasti ini di antaranya sebagai berikut:

Pada periode awal (132-232 H/750-847 M), kebijakan politik yang ditempuh oleh dinasti ini diwarnai oleh usaha-usaha para khalifah dalam memberikan landasan bagi pemerintahan yang tangguh dan mempertahankan kekuasaan di tangan keturuna Bani Abbas. Oleh karena itu usaha-usaha yang ditempuh adalah: 

a. Menumpas habis keturunan Bani Umayyah dan tidak memberikan ruang gera sekecil apa pun kepada mereka untuk tampil dalam panggung politik. 

b. Memindahkan ibu kota Abbasiyah dari al-Hasyimiyah dekat Kuffah yang selalu mendapat gangguan musuh ke Baghdad. Di Baghdad, khalifah Abbasiyah dapat menjalankan pemerintahannya jauh lebih baik.

c. Abu Ja’far al-Mansur dapat membangun Kota Baghdad menjadi kota yang metropolis dan menjadi pusat peradaban dunia.

d. Khalifah al-Mansur menyingkirkan Abu Muslim al-Khurasani yang memili pengaruh kuat bagi muslim non-Arab karena dianggap mengancam kekuasaan Demikian juga dengan dengan Abdullah bin Ali, paman al-Mansur sendiri, karen tidak ikut membai’atnya saat menjadi khalifah. 

Menumpas pemberontaka, pemberontakan yang dipelopori kaum yang
menggunakan kedok agama, seperti: 


  • Gerakan kelompok ar-Rawandiyah, yaitu para pendukung Abu Muslim. Mereka tidak menerima pimpinannya di bunuh oleh khalifah Abbasiyah. Kelompok ini memasukan ajaran zoroaster, Ma’niyah, Saba’iyah, Mazdakiyah ke dalam ajaran Islam. Mereka meyakini bahwa ruh Isa a.s telah menjelma pada bin Thalib dan keturunannya.
  • Gerakan kelompok al-Muqanniyah, muncul pada masa Khalifah almakmun (198-218 H/813-833 M) yang dipimpin Muqanna. Menurut mukanna shaIat, puasa, zakat, dan haji tidaklah wajib. adapun harta dan wanita adalah milik bersama. 
  • Gerakan kelompok az-Zanadiqah, muncul pada masa Khalifah al-Watsiq (227-232 H/842-847 M). Pengikut gerakan ini disebut kaum Zindiq, yaitu kelompok atheis yang menghalalkan segala cara dalam memperoleh sesuatu. Kelompok ini pun menghalalkan pergaulan bebas, minum arak, dan menghindari menyebut nama Allah. 

Seluruh gerakan yang mengatas namakan agama tersebut, semuanya dapat ditumpas. Oleh karena itu hal tersebut merupakan prestasi tersendiri untuk militer Abbasiyah saat itu. 

e.Menjalin hubungan luar negeri
Sebagaimana kita ketahui bahwa Dinasti Abbasiyah dapat berdiri karena berhasil menggulingkan pemerintahan sebelumnya, Dinasti Umayyah. Maka untuk mengamankan jalannya pemerintahan, para khalifah pada periode awal dinasti ini menjalin hubungan persahabatan yang baik dengan negeri-negeri lain, di antaranya: 

  1. Menjalin hubungan persahabatan dengan raja Frank yang memiliki kekuasaan di sebagian Andalusia. Maksud dilakukan hubungan persahabatan ini untuk mengantisipasi jika ada serangan dari Abdurrahman ad-Dakhil, khalifah Bani Umayyah 11 di Andalusia, Spanyol. 
  2. Menjalin hubungan dengan Afrika Barat. Daerah tersebut merupakan wilayah kekuasaan kaum Barbar yang terus bermusuhan dengan penguasa bani umayyah selama bertahun-tahun. Daerah tersebut dapat ditaklukkan pada zaman al-Mansur tahun 155 H/772 M, dan dapat menambah kekuatan bagi kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. 


f.Menaklukan Byzantium yang mencoba melakukan serangan ke wilayah Abbasiyah. 

Kejadian ini terjadi tahun 143 H/761 M dan memaksa Kaisar Byzantium bersedia membayar jizyah/upeti. 

Pada periode kedua (232-334 H/847-946 M), kebijakan politik yang ditempuh oleh para khalifah Dinasti Abbasiyah banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur Turki. Orang-orang Turki banyak menduduki jabatan penting dalam pemerintahan dan militer. Pada masa inilah terjadi profesionalisme militer. Tentara hanya terdiri dari orang-orang yang terlatih saja, mekanisme kepangkatan dan gaji mereka pun sudah diatur. Walaupun pada gilirarmya, kebijakan ini mendatangkan kerugian besar bagi Dinasti Abbasiyah. 

Orang-orang Turki yang banyak memangku jabatan penting akhirnya tidak dapat dikendalikan, mereka mampu mengontrol kekuasaan bahkan banyak gubernur dan panglima tentara yang menyatakan diri menjadi khalifah. Oleh karena itu banyak daerah-daerah kecil yang berusaha memisahkan diri. Periode ini, bisa disebut awal periode perpecahan. 

Pada periode ketiga (334-487 H/946-1004 M) ditandai dengan munculnya kekuatan Bani Buwaih yang beraliran Syi'ah. Mereka tidak puas dengan pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang mengabaikan jasa-jasa pendahulu mereka yang ikut andil dalam mendirikan Daulah Abbasiyah Mereka mulai menguasai wilayah Persia barat dan sebagian lrak. Sementara itu Dinasti fatimiyah yang dipelopori keturunan Hasan bin Ali binAbi Thalib telah mampu mendirikan kerajaan di Mesir. Mereka juga mampu menguasai Suriah 
dan Afrika Timur. 

Kekuatan Bani Buwaihi semakin bertambah dan dapat mengontrol kekuasaan di Baghdad. Pada zaman khalifah al-Mustakfi tahun 335 H/945 M, Bani Buwaihi dapat menekan khalifah dan menjadikan Ahmad Buwaihi sebagai Amirul Umara (panglima besar) yang diberi gelar kehormatan Mu’izud Daulah (yang memperkuat kekuasaan), Sejak itu, selama kurang lebih satu abad, kekuasaan Abbasiyah dikontrol oleh Bani Buwaihi dan para khalifah tidak mampu berbuat banyak untuk mempertahankan kedaulatan negara. 

Pada periode keempat (487-656 H/1094-1258 M) kekuasaan Dinasti Abbasiyah berada di bawah kontrol kaum Saljuk dari Turki. Mereka mampu menghilangkan dominasi Buwaihi yang telah lama mengontrol pemerintahan setelah berhasil menduduki jabatan-jabatan penting pemerintahan.

Selama periode ini mereka berhasil mengambil alih kekuasaan para khalifah. Khalifah hanya diperkenankan mengurusi masalah-masalah agama saja. Kekhalifahan dinasti ini akhimya hilang setelah pasukan Mongol memorak-porandakan Baghdad tahun 656 H/1258 M. 

Demikianlah perkembangan politik dan militer yang terjadi selama kurang lebih lima abad masa Dinasti Abbasiyah. Sebenarnya, Dinasti Abbasiyah hanya mampu mandiri dalam masalah politik dan militer selama periode pertama mereka berkuasa saja, yaitu kurang lebih selama 100 tahun. 

D. Bidang Seni Budaya 

Dinasti Abbasiyah yang berlangsung kurang lebih selama lima abad, secara politis, bisa dikatakan hanya mampu mandiri selama satu abad saja, yaitu selama periode pertama sekitar tahun 132-232 H/750-847 M.

Namun bidang ilmu pengetahuan, kesusasteraan, dan seni budaya terus mengalami pertumbuhan. Keadaan demikian disebabkan karena para khalifah Daulah Abbasiyah lebih berorientasi pada pertumbuhan peradaban dari pada perluasan wilayah dan kekuasaan. 

Sebab lain adalah karena adanya asimilasi bangsa Arab dengan bangsa bukan Arab sehingga terjadinya transfer pengetahuan secara terus menerus dalam bidang ilmu, seni, maupun filsafat. Apalagi setelah kegiatan penerjemahan berbagai macam buku dari Yunani, India, Byzantium, dan Persia ke dalam bahasa Arab pada zaman Khalifah Harun ar-Rasyid dan Khalifah al-Makmun, kaum muslimin seakan-akan tidak ada puas-puasnya menyerap ilmu pengetahuan dari negara-negara yang lebih dahulu maju peradabannya. 

Pada masa kekhalifahan Abbasiyah, peradaban Islam dalam bidang seni budaya dan kesusasteraan mencapai puncak keemasannya. Kota Baghdad menjadi kota pusat studi ilmu, seni, dan sastra dari berbagai penjuru dunia. Perkembangan peradaban yang kita bisa identifikasi dalam bidang sastra dan seni budaya di antaranya sebagai berikut: 

1. Seni Arsitektur 

Pada umumnya, khalifah-khalifah Abbasiyah sangat menyukai seni arsitektur. Untuk keperluan membangun sebuah gedung, misalnya masjid, istana, madrasah dan perkantoran, mereka tidak segan-segan mendatangkan arsitek-arsitek dari luar Abbasiyah, seperti Byzantium, Yunani, Persia, dan India. Para ahli yang didatangkan tersebut tidak hanya untuk keperluan membangun suatu bangunan, tetapi ada yang ditugaskan untuk mengajar orang-orang Abbasiyah. Sehingga bermunculan para arsitek muslim di masa itu. 

Bukti dari tumbuhnya peradaban seni arsitektur pada masa Dinasti Abbasiyah dapat kita temukan sampai saat ini dari keindahan gedung-gedung istana, masjid, madrasah, dan sebagainya hasil peninggalan Dinasti Abbasiyah. 


Seni Tata Kota Bukti dari ketinggian nilai seni tata kota masa dinasti ini adalah adanya kota-kota yang dibangun dengan teknik dan seni tata kota yang tinggi, di antaranya sebagai 
berikut: 
a. Kota Baghdad 
Kota Baghdad yang dibangun tahun 145 H/763 M pada masa pemerintahan Khalifah al-Mansur ini melibatkan 100.000 orang ahli bangunan, terdiri dari arsitek, tukang batu, tukang kayu, pemahat, pelukis, dan lain-lain, yang didatangkan dari Suriah, Iran, Basrah, Mosul, Kuffah, dan daerah-daerah yang lainnya. Biaya yang dihabiskan mencapai 4.833.000 dirham. 

Kota Baghdad dibangun berbentuk bundar sehingga disebut kota bundar (al-Muadawwarah). Dikelilingi dua lapis tembok besar dan tinggi. Bagian bawah selebar 50 hasta dan bagian atas 20 hasta, tingginya 90 kaki (27,5 m). Di luar tembok dibangun parit yang dalam, yang berfungsi ganda sebagai saluran air dan sebagai benteng pertahanan. 

Di tengah kota dibangun istana khalifah diberi nama aI-Qasr aZ-Zahabi (istana emas) yang melambangkan kemegahan dan keindahan. Di samping istana, dibangun juga Masjid Jami’ al-Mansur. 
b. Kota Samarra 
Kota Samarra dibangun pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah (218-227 H/833-842 M) lima tahun setelah Kota Baghdad mengalami kemajuan. Walaupun tidak semegah dan seindah Kota Baghdad, Samarra termasuk kota yang dibangun dengan nilai seni dan tata kota yang tinggi. 

Di dalam kota ini terdapat istana yang indah dan megah, masjid raya, taman bunga dan alun-alun. Rumah-rumah pejabat pemerintah, pusat-pusat pelayanan publik tempat perbelanjaan juga dibangun di kota tersebut. Masyarakat dapat menggubakan berbagai keperluan dengan mudah. 

Selain dua kota yang disebutkan di atas, tentu masih banyak bukti peninggalan peradaban masa lalu dalam seni arsitektur maupun tata kota. Misalnya Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah yang berdiri dengan megah dan indah. Keindahan dan kemegahannya masih bagian dari tingginya nilai seni Dinasti abbaaiyah dan penguasa muslim yang lain. Menurut kebiasaan, setiap penguasa muslim pada masanya masing-masing turut ambil bagian dalam renovasi dan pengembangan kedua masjid suci tersebut. 

2. Seni Sastra 

Pada masa Abbasiyah berkuasa, dunia sastra mengalami kemajuan. 
Kota Baghdad dikenal sebagai pusat sastrawan dan penyair. Bahkan kebanyakan khalifah yang memimpin dinasti ini menyukai sastra. Sehingga perkembangan sastra Islam pada masa dinasti ini mencapai puncak keemasarmya. Berikut beberapa penyair dan sastrawan yang terkenal saat itu. 

a. Abu Atahiyah (130-211 H/760-841 M) 
b. Abu Nawas (145-198 H/741-794 M) 
c. Abu Tamam (w 232 H/847 M) 
d. Al-Buhtury (206-285 H/821-900 M) 
e. Al-Mutanabbi (303-354 H/916-967 M) 

Adapun buku cerita yang terkenal dan sangat melegenda di kalangan umat Islam adalah cerita yang berjudul “Alfu Lailah Wa Lailah” (1001 malam) yang ditulis oleh Mubasyir Ibnu Fathik. 

3. Seni Suara dan Seni Musik 

Seni suara dan musik juga mengalami kemajuan. Para khalifah Dinasti Abbasiyah umumnya menyukai musik dan lagu. Acara-acara resmi kerajaan dan acara keluarga raja/khalifah sering menggunakan hiburan musik dan lagu. Berikut beberapa seniman musik dan lagu pada masa Abbasiyah adalah: 


  • Yunus bin Sulaiman (w 148 H/765 M) 
  • Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w 175 H/791 M) 
  • Isha bin Ibrahim al-Maushuli (w 250 H/850 M) 


Demikian di antara perkembangan kebudayaan peradaban Islam yang dicapai pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Tentu masih banyak bidang-bidang perkembangan peradaban lain yang pernah dicapai oleh dinasti ini.

Namun apa yang telah dideskripsikan dalam pembahasan ini setidaknya memberi gambaran kepada kita bahwa para pendahulu kita telah melakukan usaha-usaha terbaik mereka yang hasilnya masih dapat kita manfaatkan dan nikmati sampai sekarang. 

0 Response to "Perkembangan Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel