display litra

Mengenal Pahlawan Pada Uang Rp. 1000 Keluaran Tahun 2000 dan 2016

Dalam tulisan ini akan dijelaskan tentang sosok pahlawan pada uang Rp. 1.000, yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia tahun 2000 dan 2016. Perbedaan diantara kedua mata uang pecahan seribu rupiah tersebut terletak pada desain, sedangkan warna masih menggunakan warna dasar hijau. Bagaimana sih sejarah Pahlawan itu sehingga gambar mereka pada uang seribuan, mari kita simak penjelasan Sejarahnya.
Pahlawan Pada Uang Rp. 1000, Keluaran Tahun 2000 dan 2016
Pattimura
Sumber gambar: Pixabay.com

Thomas Mattulessy Pattimura

Gambar depan pada desain uang Rp. 1.000, yang dikeluarkan tahun 2000 adalah Kapitan Pattimura, nama lengkap dari pahlawan ini adalah Thomas Mattulessy Pattimura. Ia adalah pahlawan Nasional dari Maluku, lahir di Haria tanggal 8 Juni 1783. Haria merupakan salah satu desa di pulau Saparua Maluku. Pattimura meninggal di kota Ambon, Maluku tanggal 16 Desember 1817 pada usia 34 tahun. Pattimura merupakan keturunan bangsawan yang berasal dari Seram. Selain diabadikan pada mata uang rupiah, nama Pattimura juga diabadikan menjadi nama Universitas Pattimura dan Bandar Udara Pattimura di Ambon.
Pahlawan Pada Uang Rp. 1000, Keluaran Tahun 2000 dan 2016
Thomas Mattulessy Pattimura
Sumber gambar: Pixabay.com

Sejarah kepahlawanan Pattimura dimulai pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817 di Maluku. Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkat Pattimura sebagai pemimpin sekaligus sebagai panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sifat kesatria (kabaressi). Berbagai pertempuran yang sangat luar biasa melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dilakukan oleh Kapitan Pattimura dan rakyat Maluku.

Untuk berjuang mengusir penjajah Belanda, Pattimura juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore serta raja-raja di Sulawesi, Bali dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang lengkap, besar dan kuat. Belanda mengirimkan Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Pattimura.

Beberapa pertempuran antara Pattimura dan Belanda yang terkenal adalah perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan Jasirah Hatawano, Ouw-Ullath serta Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. Perang Pattimura dengan pasukan Belanda berlangsung

sengit dan menyebabkan pihak Belanda kewalahan. Belanda akhirnya menggunakan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus untuk menghentikan perlawanan Pattimura dan rakyat Maluku. Bersama dengan tokoh-tokoh pejuang lainnya, Pattimura akhirnya dapat ditangkap dan dihukum mati oleh Belanda pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon.

Keberanian dan kecerdikan yang dimiliki oleh Pattimura berhasil membuat penjajah Belanda menjadi gentar. Pattimura sadar bahwa perlawanan terhadap Belanda harus dilakukan dengan kerja keras, pantang menyerah serta nilai-nilai kejujuran dan keteladanan. Perjuangan tidak bisa dilakukan sendiri. Sebagai pemimpin, Pattimura berhasil menyatukan rakyat Maluku serta menggalang persatuan dengan berbagai wilayah di Indonesia untuk bekerjasama dan berjuang melawan penjajahan Belanda. Pattimura juga merupakan sosok yang kreatif, ia berhasil mengatur berbagai strategi untuk berjuang melawan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap dan canggih.

Cut Nya Meutia

Tokoh pahlawan pada uang Rp. 1.000, terbitan tahun 2016 adalah Cut Nyak Meutia. Ia adalah pahlawan Nasional dari Aceh, lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara pada tahun 1870 dan meninggal di Alue Kurieng, Aceh pada tanggal 24 Oktober 1910 dalam usia 40 tahun. Ayah dari Cut Nyak Meutia yang bernama Teuku Ben Daud Pirak merupakan ulubalang (kepala pemerintahan) daerah Pirak sedangkan ibunya bernama Cut Jah. Keluarga tersebut dikaruniai lima orang anak dan Cut Mutia merupakan anak perempuan satu satunya. Ayah Cut Meutia merupakan kepala pemerintahan yang dikenal bijaksana dan tegas, ia juga dikenal sebagai ulama di daerah tersebut.
Pahlawan Pada Uang Rp. 1000, Keluaran Tahun 2000 dan 2016
Cut Nya Meutia
Sumber gambar: Pixabay. com

Cut Nyak Meutia tumbuh dalam suasana Perang Aceh sehingga memiliki semangat perjuangan yang sangat besar, Perang Aceh merupakan perjuangan rakyat Aceh untuk mengusir penjajah Belanda dari tanah mereka. Ketika strategi untuk berjuang melawan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap dan canggih.

Tokoh pahlawan pada uang Rp. 1.000,terbitan tahun 2016 adalah Cut Nyak Meutia. Ia adalah pahlawan Nasional dari Aceh, lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara pada tahun 1870 dan meninggal di Alue Kurieng, Aceh pada tanggal 24 Oktober 1910 dalam usia 40 tahun. Ayah dari Cut Nyak Meutia yang bernama Teuku Ben Daud Pirak merupakan ulubalang (kepala pemerintahan) daerah Pirak sedangkan ibunya bernama Cut Jah. Keluarga tersebut dikaruniai lima orang anak dan Cut Mutia merupakan anak perempuan satu-satunya. Ayah Cut Meutia merupakan kepala pemerintahan yang dikenal bijaksana dan tegas, ia juga dikenal sebagai ulama di daerah tersebut.

Cut Nyak Meutia tumbuh dalam suasana Perang Aceh sehingga memiliki semangat perjuangan yang sangat besar, Perang Aceh merupakan perjuangan rakyat Aceh untuk mengusir penjajah Belanda dari tanah mereka. Ketika beranjak dewasa, Cut Nyak Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sesaat sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya yang bernama Teuku Raja Sabi serta melanjutkan perjuangan melawan penjajah Belanda.

Tidak berapa lama kemudian Cut Nyak Meutia menikah dengan Pang Nagroe dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Dalam suatu pertempuran dengan Korps Marechause'e di Paya Cicem, Cut Nyak Meutia bersama para wanita terdesak dan melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910. Setelah suaminya tewas Cut Nyak Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya.

Sejak awal perlawanan, taktik gerilya digunakan oleh Cut Nyak Meutia untuk berjuang melawan Belanda. Ia menyerang dan merampas pos pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Pada tanggal 24 Oktober 1910, Cut Nyak Meutia bersama pasukannya bentrok dengan Marechause’e (pasukan Belanda) di Alue Kurieng. Pasukan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap tidak membuat Cut Nyak Meutia menjadi takut dan menyerah. Dengan sebilah rencong (senjata tradisional Aceh) di tangan, ia tetap melakukan perlawanan. Namun, tiga buah tembakan pasukan Belanda berhasil menghentikan perlawanan Cut Nyak Meutia. Dalam pertempuran yang dramatis tersebut akhirnya Cut Nyak Meutia gugur.

Keberhasilan Cut Nyak Mutia dalam berjuang melawan penjajah Belanda tidak lepas dari karakter yang dimilikinya. Cut Nyak Meutia merupakan sosok yang tangguh dan pemberani serta sangat mencintai tanah airnya, sampai titik darah penghabisan memegang prinsip tidak akan tunduk kepada penjajah. Ia rela berkorban dan bekerja keras, keluar masuk hutan untuk bergerilya melawan penjajah.

Dalam setiap pertempuran, Cut Nyak Meutia dan pasukannya bekerjasama dengan pasukan lainnya sehingga berhasil membuat penjajah Belanda kewalahan. Selain itu, Cut Nyak Meutia dikenal sebagai sosok yang religius, ia meyakini bahwa setiap usaha dan doanya akan dikabulkan oleh Tuhan YME. Walaupun ia gugur dalam perjuangan melawan Belanda, akan tetapi perjuangan yang telah dilakukannya memiliki peran yang sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia.

0 Response to "Mengenal Pahlawan Pada Uang Rp. 1000 Keluaran Tahun 2000 dan 2016"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel