Pengertian Teks Narasi, Ciri-ciri, Struktur, Rincian Teks, Cara Penulisan dan Contohnya

A. Pengertian Teks Narasi 

Narasi berasal dari bahasa Latin narrare berarti menceritakan; bercerita; narratio berarti penceritaan; narra tivus berarti bersifat penceritaan. Paragraf naratif adalah paragraf yang mengisahkan kehidupan seseorang.

Teks narasi pada dasarnya menceritakan suatu peristiwa yang tidak benar benar terjadi, tetapi hanya dikarang oleh si penulis. Teks narasi bertujuan menghibur dan mempertahankan perhatian pembaca/pendengar cerita. Teks narasi juga bertujuan untuk mendidik, memberi tahu, menyampaikan refleksi tentang pengalaman pengarangnya. Selain itu, teks narasi berguna untuk mengembangkan imajinasi pembaca/pendengar. Teks narasi umumnya bersifat imajiner. Akan tetapi, ada juga teks narasi bersifat faktual, yaitu menceritakan kejadian sesungguhnya.
Pengertian Teks Narasi, Ciri-ciri, Struktur, Rincian Teks, Cara Penulisan dan Contohnya
Sumber gambar
Pixabay

Menurut Gorys Keraf, dalam Argumen rasi dan Narasi, narasi adalah suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Dapat pula diartikan bahwa narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelasjelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang terjadi. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, narasi berarti pengisahan suatu cerita atau kejadian; cerita atau deskripsi suatu kejadian atau peristiwa; kisahan. Dengan demikian, dapat simpulkan bahwa narasi menyajikan serangkaian peristiwa yang biasanya disusun menurut urutan waktu. Karangan narasi, misalnya cerpen, novel, roman, kisah perjalanan, biografi , dan autobiografi .

B. Ciri-Ciri Teks Narasi 

Teks narasi memiliki ciri ciri sebagai berikut.
1. Menyajikan serangkaian berita atau peristiwa.
2. Disajikan dalam urutan waktu serta kejadian yang menunjukkan peristiwa awal sampai akhir.
3. Menampilkan pelaku peristiwa atau kejadian.
4. Latar(setting) digambarkan secara hidup dan terperinci.
Baca juga artikel terkait:

C. Struktur Teks Narasi 

Teks narasi terdiri atas tiga bagian utama sebagai berikut.

1. Orientasi (orientation) yaitu bagian ketika pengarang melukiskan dunia untuk ceritanya. Di bagian inilah diperkenalkan tempat dan waktu peristiwa teri adi serta para tokoh.

2. Komplikasi (complication) yaitu bagian tubuh utama menghadapi rintangan dalam mencapai cita-citanya. Dalam bagian ini konflik mulai terjadi.

3. Resolusi (resolution) yaitu bagian permasalahan yang dihadapi tokoh utama diselesaikan. Bagian ini mempunyai dua kecenderungan, yaitu mengakhiri cerita dengan kebahagiaan (happy ending) atau mengakhiri cerita dengan kesedihan (sad ending). Akan tetapi, ada juga teks narasi yang membiarkan pembaca/pendengar menebak akhir cerita.

Perhatikan struktur teks narasi berikut.

D. Perincian Teks Narasi 

1. Narasi Ekspositoris
Narasi ekspositoris mempunyai sasaran penyampaian informasi secara tepat mengenai suatu peristiwa. Tujuan narasi ekspositoris yaitu menambah informasi dan memperluas pengetahuan pembaca terhadap kisah seseorang. Bahasa yang digunakan lugas dan mudah dipahami.

Contoh:

Di Aachen saya tinggal di Jalan Preubweg No.123, sebuah apartemen kecil terdiri atas kamar tidur, kamar tamu, dapur kecil dan kamar mandi, di atas garasi untuk tiga mobil keluarga Goldman seorang pengusaha percetakan buku. Rumah keluarga Goldman sangat indah, halaman dan kebunnya besar dengan pemandangan yang indah pula. Daerah rumah ”Villa Goldman” termasuk mewah di daerah elit Aachen. Saya mendapat alamat tersebut atas rekomendasi Profesor Dr. Ing. Hans Ebner sejak bulan Agustus 1960. Saya bekerja sebagai asistennya selain sebagai peneliti.

Dikutip dari: Bacharuddin Jusuf Habibie, Habibie & Ain un, Jakarta, THC Mandiri, 2010

2. Narasi Sugestif
Narasi sugestif adalah rangkaian peristiwa yang disajikan untuk menimbulkan daya khayal pembaca. Narasi sugestif lebih menekankan makna. Bahasa yang digunakan pun terkesan konotatif sehingga lebih menampakkan daya khayal para pembaca.

Contoh:

Pada terik sore itu, tiba tiba sapaan hangat menyeru dari belakang.

”Arya, sudahlah! Kasihan sahabatmu itu. Iangan kau sesali kematiannya.”

Suara lelaki itu mirip suara sahabatku. Aku tidak menoleh sedikit pun. Aku tetap terpaku pada

kenangan kenangan dahulu. Jenuh sapa lelaki itu pun membuat lengannya merangkul ku.

”Apa yang kau sesali dari kematian sahabatmu ini, Arya?”

”Oh . . . Bang Dito.” Lirikku dengan muka sendu penuh peluh dari kelopak mata.

”Seandainya Abang tahu!” Bagaimana keceriaan hari kami saat mengejar mimpi. Grup band yang kami bentuk berdua adalah semangat yang diberikannya untukku agar terus mengejar citaku sebagai seorang penulis. Di dalam band kami itu ia selalu memberikan peluang kepadaku untuk menulis lirik-lirik lagu. ”Seandainya Abang tahu.” Hari hari kami di kampus, selalu dikeluhkan oleh mata wanita wanita. Mereka melirik ketampanan kami. Tapi tidak luka kami. Kala itu kami bahagia, saling menyembunyikan wajah luka karena cinta. ”Seandainya Abang tahu!” Aku selalu menangis di hadapan Dimas. ”Seandainya Abang tahu itu semua.” Hanya Dimas yang tahu itu semua, Bang.

”Sudahlah! Semua itu lampau. Kenyataan yang sekarang kau lihat adalah kematian. Kematian dari sahabat karibmu, Dimas, yang juga adikku. Abang yang sering memakinya.”

Dikutip dari: Irfan Firnanda, "Kepergian Sahabat" dalam Si Murai dan Orang Gila Bunga Rampai Cerpen Panggung Sastra Komunitas Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta, Kompas, 2010

E. Perbedaan Pokok antara Narasi Ekspositoris dan Narasi Sugestif 

Narasi Ekspositoris 

  • Memperluas pengetahuan. 
  • Menyampaikan informasi. 
  • Menggunakan kata-kata denotatif, bahasa bersifat informatif. 

Narasi Sugestif

  • Menyampaikan makna secara tersurat dan tersirat. 
  • Menimbulkan daya khayal. 
  • Menggunakan katakata konotatif, bahasa bersifat figuratif. 

Berdasarkan perbedaan antara narasi ekspositoris dan narasi sugestif, narasi dibedakan dalam bentuk narasi fiksi dan nonfiksi. Bentuk narasi fiksi biasanya berkaitan dengan kesastraan, misalnya roman, novel, cerpen, dan dongeng. Sementara itu, bentuk narasi nonfiksi berkaitan dengan peristiwa sejarah, biografi , dan autobiografi. 

1. Biografi
Biografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu bios yang berarti hidup, dan graphien yang berarti tulis. Dengan kata lain biografi merupakan tulisan tentang kehidupan seseorang. Biografi , secara sederhana, dapat dikatakan sebagai kisah riwayat hidup seseorang. Biografi dapat berbentuk beberapa baris kalimat saja, tetapi juga dapat berupa lebih dari satu buku.

Biografi menganalisis dan menerangkan kejadian kejadian hidup seseorang. Melalui biografi akan ditemukan hubungan, keterangan arti dari tindakan tertentu atau misteri yang melingkupi hidup seseorang, serta penjelasan mengenai tindakan dan perilaku hidupnya. Biografi biasanya dapat bercerita tentang kehidupan seorang tokoh terkenal atau tidak terkenal. Namun, biografi tentang orang biasa akan menceritakan mengenai satu atau lebih tempat atau masa tertentu. Biografi sering bercerita mengenai seorang tokoh sejarah. Tidak jarang juga biografi menceritakan orang yang masih hidup. Banyak biografi ditulis secara kronologis. Beberapa periode waktu tersebut dapat dikelompokkan berdasar tema tema utama tertentu. Tema tema tersebut misalnya "masa masa awal yang susah" atau "ambisi dan pencapaian". Walaupun begitu, beberapa biografi lain fokus pada topik topik atau pencapaian tertentu.

Biografi memerlukan bahan bahan utama dan bahan pendukung. Bahan utama dapat berupa benda benda, seperti surat surat, buku harian, atau kliping surat kabar. Bahan bahan pendukung biasanya berupa biografi lain, buku buku referensi, atau buku sejarah yang memaparkan peranan subjek biografi itu.

Buku biografi tokoh nasional sebagai berikut:


2. Autobiografi
Autobiografi adalah tulisan tentang biodata data diri seseorang. Tulisan tersebut dibuat sendiri oleh orang yang bersangkutan. Autobiografi biasanya sering ditulis oleh para penulis novel.

Contoh:

Tahap demi tahap dengan bekerja keras, dorongan, kasih sayang Ainun bersama putra kami Ilham menjelang hari ulang tahunnya yang pertama, hasil penelitian saya dinilai sudah memenuhi persyaratan Fakultas Bagian Mesin RWTH Aachen, untuk diajukan sebagai karya 83 dalam waktu sesingkat singkatnya.

Pada bulan September 1964 karya tesis S3 saya. resmi saya serahkan kepada Fakultas Bagian Mesin RWTH Aachen untuk disidangkan pada sidang paripurna fakultas yang akan datang. Sebagai pendamping utama atau Referent Professor Dr. Ing. Hans Ebner dan pendamping atau Co Referent Prof. Dr. Ing. Wilhelm Dettmering yang merekomendasi karya 83 saya.

Bulan April 1965, saya menerima surat keputusan Sidang Paripurna Fakultas Bagian Mesin RWTH Aachen, yang menyatakan karya S3 saya diterima setelah dipelajari oleh pusat keunggulan ristek dunia yang sedang mengadakan penelitian di bidang karya S3 saya. Saya dipersilakan memberi kuliah umum mengenai karya SS saya pada hari Kamis, tanggal 15 Juli 1965.

Dikutip dari: Bacharuddin Jusuf Habibie, Habibie & Ainun, Jakarta, THC Mandiri, 2010

Perbedaan antara biografl dan autobiografi. 

Biografi
  • Ditulis orang lain. 
  • Isinya berupa perjalanan hidup lengkap atau sebagian paling berkesan. 
Autobiografi
  • Ditulis sendiri. 
  • Isinya berupa perjalanan karier dari awal karier hingga karier terbaru atau sebagian perjalanan karier dalam mencapai sukses tertentu. 
Menurut Gorys Keraf, ada beberapa jenis narasi yang tidak termasuk narasi fiksi dan narasi non-fiksi. Jenis narasi tersebut, misalnya anekdot, insiden, sketsa, dan profil.

1. Anekdot

Anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang-orang penting atau terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Berdasarkan batasan tersebut dapat diketahui bahwa anekdot mengandung unsur humor. Akan tetapi, unsur humor yang terkandung dalam anekdot tidak harus membuat pendengar atau pembaca tertawa terbahak-bahak.

Pada mulanya anekdot merepresentasikan peristiwa nyata, baik yang berasal dari tokoh terkenal maupun dari tokoh biasa. Akan tetapi, dalam perkembangannya, anekdot berisi cerita imajinatif yang diciptakan untuk tujuan tertentu. Salah satu tujuan anekdot adalah untuk mengkritik orang atau pihak tertentu.

2. Sketsa

Sketsa adalah wacana singkat yang dikategorikan dalam karangan naratif. Kenyataannya unsur perbuatan atau tindakan berlangsung dalam unit waktu tidak menonjol atau kurang diungkapkan secara jelas. Tujuan utama sketsa adalah menyajikan aspek-aspek penting dari sebuah peristiwa atau kejadian secara garis besar dan selektif.

3. Insiden

Insiden memiliki bentuk lebih bebas dari anekdot. Daya tarik insiden terletak pada ciri khas yang dijelaskan dalam perbuatan atau kejadian tersebut. Pokok cerita dalam insiden biasanya mengasyikkan. Suatu peristiwa kecil dan menegangkan dapat disajikan dalam bentuk insiden.

4. Profil

Pada awalnya profil bukan bentuk narasi murni. Profil adalah bentuk karangan modern yang berusaha menggabungkan narasi, deskripsi, dan eksposisi secara proporsional. Profil menampilkan ciri-ciri utama dari seorang tokoh yang dideskripsikan berdasarkan kerangka yang sudah digariskan sebelumnya.

Bagian terpenting yang dimasukkan dalam profil adalah sketsa karakter yang disusun untuk mengembangkan subjeknya. Penulisan profil tidak dibuat tergesa gesa sehingga memberi kesan seolah olah dibuat seenaknya. Penulisan profil dibuat secara cermat dengan memanfaatkan fakta mengenai kehidupan dan watak subjek yang ditulis.

F. Menulis Teks Narasi 

Teks narasi identik dengan cerita. Berikut langkah-langkah menulis teks narasi berupa cerita.

1. Menentukan Tema
Tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Tema dapat bersinonim dengan ide utama dan tujuan utama. Jadi, tema merupakan gagasan dasar umum, dasar cerita sebuah karya yang digunakan pengarang untuk mengembangkan cerita.

Tema yang sering diangkat dalam karya adalah masalah kehidupan. Masalah tersebut berupa pengalaman bersifat individual dan sosial. Contoh tema yang diangkat, antara lain cinta (cinta terhadap Tuhan, tanah air, orang tua, atau kekasih), kesetiakawanan, dan keadilan. Contoh tema: kesetiakawanan

2. Menentukan Latar
Latar atau setting disebut landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu. dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

a. Latar tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi.

b. Latar waktu

Latar waktu berhubungan dengan masalah waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam karya fiksi.

c. Latar sosial

Latar sosial menyaran pada unsur-unsur yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, dan bersikap,

Contoh:
Latar tempat: di sungai
Latar waktu: malam hari
Latar suasana: takut

3. Menentukan Tokoh dan Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Pelukisan gambaran tokoh cerita ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan aspek yang dilakukan dalam tindakan.

Contoh:

Tokoh: Aris dan Deni

Penokohan: Aris anak baik dan Deni penakut

4. Menentukan Sudut Pandang
Sudut pandang atau point of view merupakan cara pandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Bentuk sudut pandang tokoh cerita yaitu sudut pandang orang ketiga dan pertama.

a. Sudut pandang orang ketiga

Pengisahan cerita pada umumnya mempergunakan sudut pandang orang ketiga. Narator adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama diri atau kata ganti orang ketiga. Kata ganti tersebut misalnya Delia, Rahmat, ia, dia, dan mereka.

b. Sudut pandang orang pertama

Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang orang pertama, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si "aku", tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran diri sendiri.

c. Sudut pandang campuran

Dalam pengisahan cerita, pengarang menggabungkan penggunaan sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga.

Contoh:

Sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga.

5. Menentukan Alur (Plot) 
Alur (plot) merupakan jalinan peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat dalam cerita. Peristiwa merupakan sesuatu yang terjadi, dialami, dan mengandung tindakan dari tokoh. Kalimat-kalimat yang menunjukkan peristiwa merupakan kalimat yang mengandung tindakan tokoh. Banyak peristiwa ditampilkan dalam cerita, tetapi tidak semua peristiwa tersebut berfungsi sebagai pendukung alur. Oleh karena itu, peristiwa-peristiwa dalam cerita dibedakan menjadi peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan.

a. Peristiwa fungsional merupakan peristiwa-peristiwa yang menentukan dan memengaruhi perkembangan plot atau alur. Urut urutan peristiwa fungsional merupakan inti cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu, peristiwa-peristiwa fungsional dalam cerpen tidak boleh dihilangkan. Jika dihilangkan, cerita menjadi tidak logis.

b. Peristiwa kaitan merupakan peristiwa-peristiwa yang berfungsi mengaitkan peristiwa penting dalam urutan penyajian peristiwa. Peristiwa kaitan kurang memengaruhi pengembangan alur. Jika dihilangkan, peristiwa kaitan tidak akan memengaruhi inti cerita.

c. Peristiwa acuan merupakan peristiwa yang tidak secara langsung berhubungan atau berpengaruh dengan perkembangan alur, tetapi mengacu unsur-unsur lain. Peristiwa acuan dapat dihilangkan dalam cerita.

6. Menentukan Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah cerita. Pesan dalam sebuah cerita mencerminkan pandangan hidup pengarang. Pesan yang ingin disampaikan pengarang disebut pesan moral. Pesan moral tersebut dapat berupa penerapan sikap dan tingkah laku para tokoh yang terdapat pada sebuah cerita. Melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh tersebut diharapkan dapat menyajikan hikmah.

Jenis pesan moral yang disampaikan dalam cerita bersifat tidak terbatas. Pesan moral dapat mencakup seluruh persoalan hidup. Persoalan hidup dan kehidupan manusia dapat dikategorikan ke dalam persoalan hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial, hubungan manusia dengan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Contoh:

Amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca adalah menolong teman yang mengalami kesulitan.

7. Menentukan Nilai dalam Cerita
Sebuah karya sastra termasuk cerpen dan novel mengandung nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut menggambarkan norma, tradisi, aturan, dan kepercayaan yang dianut atau dilakukan oleh masyarakat. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai moral, sosial, budaya atau adat istiadat, dan religi.

a. Nilai moral merupakan nilai kehidupan berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti (baik dan buruk). Contoh nilai moral yaitu berbakti kepada orang tua, jujur, sabar, dan ikhlas.

b. Nilai sosial merupakan nilai kehidupan terkait dengan norma atau aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai sosial berhubungan dengan orang lain. Contoh nilai sosial yaitu saling memberi, tenggang rasa, dan saling menghormati pendapat orang lain.

c. Nilai budaya merupakan nilai-nilai
berkaitan dengan kebiasaan atau tradisi yang berlaku dalam masyarakat. Contoh nilai budaya yaitu adat istiadat perkawinan atau kematian, adat cara berpakaian, budaya kesenian, dan upacara adat.

d. Nilai religi merupakan nilai berkaitan dengan kehidupan beragama. Contoh nilai religi yaitu cara beribadah kepada Tuhan dan sistem kepercayaan.

e. Nilai politik merupakan nilai-nilai berkaitan dengan gejolak tata pemerintahan di suatu daerah. Gejolak tersebut menjadi latar cerita. Latar peristiwa politik dijadikan salah satu dokumen sejarah bangsa.

Post a Comment for "Pengertian Teks Narasi, Ciri-ciri, Struktur, Rincian Teks, Cara Penulisan dan Contohnya"