display litra

Teks Observasi dan Contohnya: Pengertian, Aspek, Langka, Ciri, Struktur dan Cara Penulisan

A. Pengertian Teks Observasi

Observasi merupakan suatu model atau bentuk kegiatan dalam penelitian. Istilah observasi digunakan untuk kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antara aspek dalam fenomena tersebut. Observasi menjadi bagian dalam penelitian berbagai disiplin ilmu, baik ilmu eksak maupun ilmu-ilmu sosial. Observasi dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (experimental) ataupun konteks alamiah.

Observasi berarti pengamatan yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah. Data tersebut sebagai alat pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Metode ilmiah observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan fenomena yang diselidiki secara sistematik. Dalam arti luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengamatan tidak langsung misalnya melalui kuesioner dan tes.
Teks Observasi dan Contohnya: Pengertian, Aspek, Langka, Ciri, Struktur dan Cara Penulisan
Sumber Gambar
www.pixabay.com

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, observasi adalah peninjauan secara cermat. Observasi adalah kegiatan pengamatan terhadap keadaan, objek, atau peristiwa yang akan diteliti. Hasil dari observasi atau pengamatan ditulis dengan lengkap mengenai detail-detail objek pengamatan.

Baca juga; Psikologi Menurut Para Ahli

Observasi tidak hanya berupa pengamatan menggunakan mata, tetapi mendengarkan, mencium, dan meraba termasuk salah satu bentuk dari observasi. Observer adalah sebutan untuk orang yang melakukan observasi. Sementara itu, Observer adalah objek pengamatan yang diobservasi.

Teks hasil observasi disebut juga laporan (report). Teks laporan berisi penjabaran umum mengenai sesuatu yang didasarkan pada hasil kegiatan observasi. Kegiatan observasi merupakan kegiatan pengumpulan data atau informasi melalui pengamatan langsung atau peninjauan secara cermat di lapangan atau lokasi pengamatan. Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang tingkah laku, keadaan, kondisi, atau situasi dari objek yang diteliti. Kemudian, peneliti mencatat setiap keadaan yang diamati. Sebelum observasi dilaksanakan, peneliti (observer) menetapkan terlebih dahulu aspek-aspek yang akan diobservasi. Aspek-aspek tersebut telah dirumuskan secara operasional sehingga hasil catatan dalam observasi hanya berdasarkan rumusan tersebut.

B. Aspek yang Perlu Diperhatikan Seorang Observer

Seorang observer harus memperhatikan aspek-aspek berikut.

1. Seorang observer harus menguasai topik permasalahan yang akan diobservasi.
2. Seorang observer harus memahami secara jelas tujuan observasi.
3. Seorang observer harus membatasi permasalahan observasi secara tegas.
4. Seorang observer harus mencatat setiap
permasalahan dengan runtut, terperinci, dan terarah.

Baca Juga Artikel Terkait

C. Langkah-Langkah Melakukan Kegiatan Observasi

Kegiatan observasi dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut.

1. Menentukan letak atau tempat observasi dilakukan.
2. Menentukan objek atau orang yang akan diobservasi.
3. Mengetahui dengan jelas data yang diperlukan saat observasi.
4. Menentukan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data agar observasi berjalan lancar.
5. Menentukan cara mencatat hasil observasi.

D. Ciri-Ciri Teks Hasil Observasi

Teks hasil observasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Harus mengandung fakta.
2. Bersifat objektif.
3. Harus ditulis sempurna dan lengkap.
4. Tidak memasukkan aspek-aspek menyimpang, mengandung prasangka, atau pemihakan.
5. Disajikan secara menarik, baik dalam unsur tata bahasa jelas, isi berbobot, maupun susunan logis.

Pada umumnya teks laporan hasil observasi memiliki bentuk hampir sama dengan teks deskripsi. Akan tetapi, berdasarkan sifatnya kedua teks tersebut berbeda. Teks laporan hasil observasi menggambarkan peristiwa atau fenomena secara umum (bersifat global dan universal). Teks deskripsi menggambarkan peristiwa atau fenomena secara khusus (bersifat unik dan individual).

E. Perincian Teks Hasil Observasi

Teks laporan hasil observasi disebut juga teks klasifikasi. Teks laporan hasil observasi memuat klasifikasi mengenai peristiwa atau fenomena berdasarkan kriteria tertentu. Jenis teks ini mendeskripsikan atau menggambarkan bentuk, ciri, atau sifat umum (general), seperti benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau peristiwa di alam semesta.

F. Struktur Teks Hasil Observasi

Struktur teks hasil observasi terdiri atas definisi umum (bagian pembuka), deskripsi bagian (bagian isi), dan deskripsi manfaat (bagian penutup). Bagian definisi umum berisi pengertian suatu yang dibahas. Definisi bagian berisi gambaran tentang suatu cara secara terperinci. Sementara itu, definisi manfaat merupakan bagian yang berisi manfaat atau kegunaan.

G. Teknik Melakukan Observasi

1. Observasi Partisipan

Observasi partisipan adalah orang yang mengadakan observasi (observer) turut ambil bagian dalam kehidupan observer. Jenis teknik observasi partisipan umumnya digunakan peneliti untuk penelitian bersifat eksploratif. Salah satu contohnya yaitu untuk menyelidiki satuan-satuan sosial besar, seperti masyarakat suatu suku bangsa. Pengamatan partisipan memungkinkan peneliti berkomunikasi secara akrab dan leluasa dengan observer. Teknik tersebut memungkinkan peneliti bertanya secara terperinci dan detail terhadap aspek yang akan diteliti.

Ada tiga persoalan pokok yang harus diperhatikan dalam metode observasi partisipan.

a. Metode Observasi

Persoalan metode observasi tidak dapat dilepaskan dari tujuan penelitian yang hendak dicapai. Observer perlu memusatkan perhatian pada aspek yang sudah diterangkan dalam pedoman observasi (Observation guide). Observer tidak terlalu insidental dalam melakukan observasi.

b. Waktu dan Bentuk Pencatatan

Waktu dan bentuk pencatatan dalam penelitian observasi sangatlah penting. Dapat dipastikan bahwa pencatatan terhadap kejadian-kejadian dalam situasi interaksi merupakan cara terbaik. Bentuk pencatatan yang dapat digunakan adalah on the spot dan pencatatan dengan kata-kata kunci.

Pencatatan on the spot mencegah pemalsuan ingatan karena ingatan peneliti terbatas. Jika pencatatan on the spot tidak dapat dilakukan, perlu dijalankan pencatatan dengan kata-kata kunci. Akan tetapi, pencatatan dengan kata-kata kunci harus dilakukan dengan cara yang tidak menarik perhatian dan tidak menimbulkan kecurigaan. Pencatatan dengan kata-kata kunci dapat dilakukan, misalnya di kertas-kertas kecil.

c. Intensi dan Ekstensi Partisipasi

Secara garis besar, partisipasi tidaklah sama untuk semua penelitian dengan observasi partisipan. Peneliti dapat mengambil partisipasi pada beberapa kegiatan sosial (partial participation). Peneliti juga dapat mengambil partisipasi pada semua kegiatan (Full participation). Dalam setiap kegiatan penyelidik dapat turut serta sedalam-dalamnya (intensive participation) atau secara minimal (surface participation). Eksistensi partisipasi tergantung pada situasi.

Dalam observasi partisipan, observer berperan ganda sebagai pengamat sekaligus menjadi bagian yang diamati. Sebaliknya, dalam observasi non partisipan, observer hanya berperan sebagai pengamat. Perhatian peneliti difokuskan pada cara mengamati, merekam, memotret, mempelajari, dan mencatat tingkah laku atau fenomena yang diteliti. Observasi non partisipan dapat bersifat tertutup. Artinya, observasi tidak diketahui oleh subjek yang diteliti. Selain itu, observasi non partisipan dapat bersifat terbuka. Artinya, observasi diketahui oleh subjek yang diteliti.

2. Observasi Sistematik

Observasi sistematik disebut juga observasi berkerangka (structured Observation). Ciri pokok observasi sistematik adalah kerangka memuat faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya lebih dahulu. Selain itu, ciri-ciri khusus dari setiap faktor dalam kategori-kategori itu sudah diatur.

Persoalan pokok perlu diperhatikan dalam metode observasi sistematik.

a. Materi Observasi

Isi dan luas situasi yang akan diobservasi dalam observasi sistematik umumnya terbatas. Sebagai alat untuk penelitian deskriptif, peneliti berlandaskan pada perumusan lebih khusus. Wilayah atau scope observasi dibatasi dengan tegas sesuai dengan tujuan penelitian. Wilayah penelitian tidak dibatasi dengan situasi kehidupan masyarakat seperti pada observasi partisipan.

Perumusan masalah yang hendak diselidiki pada observasi sistematik sudah dikhususkan, misalnya hubungan antara pengikut, kerja sama, persaingan, dan prestasi belajar. Dengan demikian, kebebasan untuk memilih objek yang diselidiki sangat terbatas. Keterbatasan objek yang diteliti tersebut menjadi ciri yang membedakan observasi sistematik dengan observasi partisipan.

b. Cara-cara Pencatatan

Persoalan-persoalan yang telah dirumuskan secara teliti memungkinkan jawaban reaksi dari objek dapat dicatat secara teliti. Ketelitian tinggi pada prosedur observasi inilah yang memberikan kemungkinan pada penyelidik untuk mengadakan kuantifikasi terhadap hasil-hasil penyelidikan. Jenis-jenis gejala atau tingkah laku tertentu yang timbul dapat dihitung. Hitungan tersebut akan memudahkan pekerjaan untuk menganalisis hasil.

3. Observasi Eksperimental

Observasi eksperimental dapat dilakukan dalam lingkup alamiah ataupun eksperimental. Dalam observasi alamiah observer mengamati peristiwa dan perilaku observer dalam lingkup natural. Peristiwa dan perilaku observer diamati secara murni tanpa ada usaha untuk mengontrol.

Observasi eksperimental dipandang sebagai cara penyelidikan relatif murni. Observasi eksperimental menyelidiki pengaruh kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia. Faktor-faktor lain yang memengaruhi tingkah laku observer telah dikontrol secara cermat sehingga tinggal sedikit faktor yang perlu diamati secara alamiah.

Ciri-ciri observasi eksperimental sebagai berikut.

a. Observer dihadapkan pada situasi sama untuk semua observer.

b. Situasi dibuat sedemikian rupa untuk memungkinkan variasi kemunculan tingkah laku yang akan diamati oleh observer.

c. Situasi dibuat sedemikian rupa sehingga observer tidak mengetahui maksud observasi.

d. Observer membuat catatan secara teliti mengenai cara-cara observer.

H. Menulis Teks Observasi

Sebelum menulis teks observasi, observer/peneliti harus melakukan observasi terlebih dahulu. Langkah-langkah berikut berguna agar kegiatan observasi berjalan terarah dan runtut.

1. Melakukan Kegiatan Observasi

Langkah-langkah yang harus dilakukan ketika melaksanakan observasi sebagai berikut.

a. Menentukan tujuan dan fungsi kegiatan observasi.
b. Mencatat data yang diperlukan dan menyesuaikannya dengan tujuan/fungsi observasi.
c. Melakukan survei tempat dan melanjutkan observasi.
d. Menemui narasumber untuk wawancara sebagai bukti penguat dan sumber acuan (referensi).
e. Mencatat hasil observasi.

Untuk memperoleh hasil baik observasi, seorang pengamat yang hendak melakukan observasi sebaiknya memperhatikan prinsip-prinsip pengamatan berikut.

a. Pengamatan sebagai suatu cara pengumpulan data harus dilakukan secara cermat, jujur, bertanggung jawab terhadap permasalahan, objektif, dan terfokus pada objek yang diteliti.

b. Dalam menentukan objek yang hendak diamati, seorang pengamat harus mengetahui bahwa semakin banyak objek yang diamati, pengamatan akan menjadi sulit dan hasilnya tidak teliti.

c. Sebelum pengamatan dilaksanakan, pengamat sebaiknya menentukan cara dan langkah-langkah (prosedur) pengamatan.

d. Agar pengamatan lancar, pengamat perlu memahami unsur-unsur yang hendak dicatat dan membuat catatan atas hasil pengamatan yang terkumpul.

2. Membuat Kerangka Teks Hasil Observasi

Agar hasil pengamatan dapat disampaikan dengan teratur, perlu dibuat kerangka. Kerangka teks hasil observasi disusun berdasarkan data dari catatan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Kerangka teks hasil observasi ditulis dengan kalimat singkat dan padat. Kerangka tersebut harus berpedoman pada struktur teks hasil observasi, baik tertulis maupun lisan.

Contoh:
a. Lidah buaya tumbuh di pekarangan rumah.

b. Lidah buaya sering digunakan untuk bahan pembuatan sampo.

c. Lidah buaya tumbuh di daerah tropis.

d. Lidah buaya memiliki 75 jenis zat bermanfaat dan 200 senyawa yang bisa digunakan dalam pengobatan herbal.

e. Lidah buaya dapat mengobati berbagai macam penyakit.

f. Lidah buaya berfungsi sebagai penangkal racun.

g. Lidah buaya dapat mengatasi gangguan pencernaan.

h. Lidah buaya dapat mencegah risiko diabetes.

3. Menyusun Teks Hasil Observasi

Kerangka hasil observasi dapat dikembangkan menjadi teks hasil observasi utuh. Dalam kerangka hasil observasi terdapat ide pokok pada setiap bagian teks hasil observasi. Ide pokok adalah ide utama yang ada dalam sebuah paragraf. Ide pokok termuat dalam sebuah kalimat utama.

Menyusun teks hasil observasi berbeda dengan menulis artikel atau kegiatan lainnya. Menyusun teks hasil observasi pada prinsipnya menyusun kembali hasil kegiatan, pengamatan, atau penelitian secara runtut berdasarkan fakta.

l. Contoh Teks Hasil Observasi

Selama ini mungkin kita hanya mengenal lidah buaya sebagai tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah dan jarang dimanfaatkan. Pada zaman dahulu lidah buaya sering dipakai sebagai sampo untuk keramas oleh masyarakat. Dari hasil berbagai penelitian diketahui bahwa khasiat lidah buaya sangat banyak.

Lidah buaya yang tumbuh di daerah tropis memiliki kandungan sekitar 75 jenis zat bermanfaat. Lidah buaya juga memiliki lebih dari 200 senyawa yang dapat digunakan untuk pengobatan herbal. Dengan kandungan yang demikian hebat, manfaat tanaman lidah buaya tidak hanya sebagai bahan sampo untuk keramas, tetapi juga bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Menurut beberapa penelitian para ahli, lidah buaya dapat berfungsi sebagai penangkal racun dalam tubuh. Lidah buaya juga dapat mengatasi gangguan pencernaan. Selain itu, lidah buaya dapat mencegah risiko diabetes.

Menuliskan teks hasil observasi perlu memperhatikan kebenaran struktur kalimat dan ketepatan penggunaan ejaan. Penggunaan bahasa baik dan benar pada teks hasil observasi memudahkan orang lain menelaah dan merevisi hasil observasi tersebut.

Cermati kembali teks hasil observasi yang telah disusun. Jika menemukan kesalahan, benahilah teks hasil observasi tersebut. Tujuannya agar menjadikan teks hasil observasi tersebut komunikatif dan efektif.

Teks hasil observasi terdiri atas beberapa paragraf. Teks hasil observasi dapat diringkas dalam satu paragraf. Meringkas adalah kegiatan memperpendek karangan atau mengambil inti sari teks. Ringkasan merupakan penyajian singkat suatu teks dengan menggunakan kata-kata sendiri. Kejelasan urutan teks dan pokok-pokok isi teks perlu diperhatikan saat meringkas.

Berikut cara meringkas teks hasil observasi.

1. Membaca teks hasil observasi secara utuh dan lengkap.

2. Mencatat ide pokok setiap paragraf teks. Ide pokok atau gagasan utama terletak di awal, tengah, atau akhir paragraf.

3. Membuat ide-ide pokok menjadi kalimat. Kalimat yang dibuat merupakan kalimat sendiri dan tidak diambil secara utuh dari kalimat dalam teks.

4. Membuat ringkasan teks hasil observasi dimulai dari definisi umum, diikuti deskripsi bagian, lalu deskripsi manfaat atau kegunaan.

0 Response to "Teks Observasi dan Contohnya: Pengertian, Aspek, Langka, Ciri, Struktur dan Cara Penulisan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel