display litra

Sejarah Awal Mula Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Timur dan Indonesia

Peringatan hari lahir Nabi Muhammad Saw. (maulid nabi) merupakan salah satu dari perayaan umat Islam, yang ketenarannya hampir menyamai dua hari raya Islam yang mempunyai ketentuan hukum agama, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Meski tidak memiliki landasan hukum secara qath’i, namun peringatannya telah dirayakan di hampir seluruh dunia Islam. Tak terkecuali oleh umat Islam di negeri non-muslim, seperti di Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.
Sejarah Awal Mula Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW  di Timur dan Indonesia
Sejarah awal mula maulid nabi Muhammad SAW

Dalam buku Nico kapten, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw., Seri INIS XXII, (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 17. Di kalangan umat Islam pada umumnya, dikenal beberapa perayaan, di antaranya adalah dua hari raya; Idul Fitri dan Idul Adha, Tahun Baru Hijriyah, Maulid Nabi Saw., malam Isra’ dan Mi’raj Nabi, dan malam Nuzulul Quran. Sementara itu-menurut Al-Qalqasandi di kalangan Syi’ah ditambah dengan maulid Imam Ali, Sayyidah Fatimah binti Rasulullah, Imam Al-Hasan, Imam Al-Husain, dan Khalifah (imam mereka) yang sedang berkuasa.

Perayaan maulid nabi dianggap sangat penting oleh umat Islam, selain untuk mengenang jasa-jasa nabi dalam menyebarkan ajaran agama, juga sebagai upaya untuk menjadikannya suri teladan. Tidak mengherankan, bila dalam upacara peringatan itu hampir selalu diuraikan sejarah kehidupannya, atau paling tidak, mengutip sesuatu yang bersangkutan dengannya, sebagai ide moral dalam menjelaskan masalah-masalah kontemporer yang sedang dihadapi oleh umat Islam. Bahkan konon, pada mulanya maulid nabi diperingati tidak hanya untuk mengenang jasa-jasanya, tetapi juga untuk membangkitkan semangat tentara Islam yang sedang menghadapi tentara Salib pada sekitar abad XII M. Sehingga saat itu, tentara Islam dapat merebut kembali Bait Al-Muqaddas di Yerusalem yang selama beberapa tahun telah diduduki tentara Salib.

Tokoh yang diisukan dalam peristiwa ini adalah sultan Salahuddin Al-Ayyubi dari Bani Mamluk di Mesir, yang saat itu sedang berperang melawan tentara Salib pimpinan Richard ”The Lion”. Al-Ayyubi mampu membangkitkan semangat tentara Islam yang akhirnya dapat merebut kembali kota-kota yang telah diduduki tentara Salib.

Maulid nabi biasanya dirayakan pada tanggal 12 Rabiul-Awwal (Jawa: Mulud) yang diyakini sebagian besar umat Islam sebagai hari kelahiran Nabi Saw. Akan tetapi, ada juga yang menyelenggarakannya di luar tanggal tersebut, yang penting masih dalam bulan Rabiul’ Awwal.

Para sejarawan berbeda pendapat tentang siapa pelopor/pencetus maulid nabi. Ada beberapa pendapat mengenai sejarah awal maulid nabi muhamad SAW, pendapat pertama bahwa maulid nabi pertama kali di laksanakan pada masa dinasti fatimiah yang dilaksanakan oleh keturunan ubaidillah dari dinasti fatimiah , dalam buku karanga asy syekh bakhit al-muti'iy hlm 44 menyebutkan "yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid, salah satunya adalah maulid nabi muhammad SAW Al-Mu'izh lidnillah (keturunan ubaidillah dari dinasti fatimiah) pada tahun 362 H.

Pada masa Dinasti fatimiyah para khalifah pada masa itu di ketahui memiliki banyak acara sepanjang tahun. Al-Maqrizi merupakan salah satu tokoh sejarah islam menyebutkan perayaan para khalifah fatimiah antara lain: hari Asyura, maulid nabi, maulid ali bin abi thalib, maulid hasan dan husain, maulid fatimah, perayaan tahu baru persia, perayaan idul fitri dan idul adha, perayaan malam pertama ramadhan, bulan rajab, dan bulan syahban.

Ada pula sejarawan dan ilmuan di masa dinasti mamluk yang menyebutkan tentang perayaan maulid yang dilaksanakn oleh dinasti fatimiah yaitu al-qalqashandi dan yang telah di sebutkan tadi yaitu maqrizi. al qalqashandi menyebutkan dalam kitabnya yang berjudul subh al-a'sya jilid III bahwa "perayaan itu telah di lakukan pada tanggal 12 rabiul awal, di pimpin oleh khalifah fatimiah dan di hadiri oleh pembesar kerajaan, pembesar kota kairo dan mesir. di acara tersebut di jelaskan di buka dengan pembacaan ayat suci al-qur'an dan khotbah oleh 3 penceramah.

Pendapat kedua yaitu ada pula sejarawan yang menyebutkan bahwan maulid nabi di laksanakan pada masa salahuddin al ayyubi di mana pada waktu itu memerintahkan untuk memperingati maulid nabi agar membangkitkan semangat jihad pada masa itu, karna pada masa itu umat islam berada pada masa peperangan dengan tentara salib.namun pendapat itu dipatahka oleh sejarawan lain karena tidak ada satupun di temukan catatan tentang perayaan maulid pada masa itu.

Namun kedua pendapat itu masih di perdebatkan baik perayan itu di pelopori oleh dinasti fatimiyah atau salahuddin al-ayyubi. Para ulama masih berselisih pendapat tentang hukum mengadakan perayaan Maulid Nabi, apakah boleh atau tidak? Misalnya, di Arab Saudi perayaan maulid dilarang. Sebuah buku yang terbit pada tahun 1403/1983 mengutuk dengan keras perayaan maulid. Karya ini merupakan tanggapan atas tulisan Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki yang membela perayaan maulid, dalam surat kabar al-Madinat al-Munawwarah tanggal 7 Januari 1982.  1403/1983).

Seperti umat Islam di negeri lain, umat Islam Indonesia pun mengadakan perayaan maulid nabi, meskipun dengan nuansa yang berbeda. Di Indonesia, perayaan maulid nabi diadakan di hampir seluruh pelosok negeri, mulai lembaga-lembaga formal, non formal, organisasi, organisasi tertentu, dan majlis-masjlis taklim di tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai tingkat nasional. Bahkan, negara pun secara resmi mengadakan perayaan ini, yang diselenggarakan di istana negara.

Biasanya, pola yang dipakai dalam perayaan ini adalah pola-pola pengajian akbar. Rangkaian acaranya diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran, kemudian beberapa kata sambutan dari tokoh masyarakat, dan diakhiri dengan uraian hikmah sejarah hidup nabi atau tema-tema keagamaan yang lain.

Hal ini berbeda dengan masyarakat umum khususnya warga nahdliyyin yang mempunyai tradisi dan pola tersendiri dalam merayakan maulid nabi. Selain menggunakan pola pengajian akbar di atas, biasanya mereka juga membaca teks-teks puitis yang berisi sejarah dan pujian-pujian atas keutamaan Nabi Muhammad Saw. Teks-teks puitis ini pada umumnya dibaca sejak tanggal 1 sampai 12 Rabiul-Awwal. Tetapi, ada juga yang membacanya pada setiap malam Jumat dan malam Senin sepanjang tahun.

Teks-teks puitis yang dibaca itu adalah kitab Maulid ad-Dibd’i, Maulid Syaraf al-Anam, ataupun Maulid al-Barazanji, yang merupakan kutipan dari kitab ’Iqd al Jawahir karya Syaikh Ja’far ibn Hasan al-Barzanji. Tampaknya, kitab maulid yang disebut paling akhir inilah yang paling banyak dibaca oleh umat Islam di Indonesia.

Bila dirunut sejarahnya, tradisi membaca teks-teks puitis di atas juga pernah dilakukan oleh daulah-daulah Islamiah pada abad pertengahan. Semisal pada masa Dinasti Fatimia, Dinasti Mamluk di Mesir, Dinasti Marini dan Wattasi di Afrika Utara, serta Dinasti Nasiri di Andalusia (Menurut Nico Kapten, Dinasti Fatimia merupakan Daulah Islam pertama yang mengadakan perayaan maulid nabi).

Oleh karena unsur kesamaan inilah, dapat dipastikan adanya hubungan khusus antara umat Islam Indonesia dengan Daulah Islam abad pertengahan terutama tentang tradisi bacaan dalam ritual maulid nabi ini.

Perayaan maulid nabi ini sudah banyak ditulis oleh para pakar dengan berbagai variasinya.Di antaranya, karya yang membahas tentang hukum boleh tidaknya mengadakan perayaan maulid nabi. Yang termasuk dalam katagori ini, dapat ditunjuk misalnya dua karya asy-Syatibi; Kitab al-I'tisham dan Fatwa al-lmam al-syatibi (ed. Muhammad Abu al Ajfan). Juga sebuah polemik yang berjudul Hiwar Ma’a al maliki fi Radd Munkardtihi wa Dadalatihi, tulisan ‘Abd Allah ibn Mani’, atau dalam versi Indonesia, “Sekitar Maulid Nabi Saw. dan Dasar Hukum Syari’at-nya”, karya al-Hamid al Husaini. Al Mutasawwafah wa Bid’at al Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawi katya Ahmad al kharisi, serta Husn al-Maqashid fi Amal al-Maulid, karya Jalal ad-Din as-Suyuthi, dan sebagainya.

Ada pula karya puitis berisi pemujaan masa lalu, kelahiran dan kehidupan Nabi Saw. yang penuh keajaiban. Karya semacam ini dapat dilihat misalnya dalam kitab Maulid al-Barzanji, Maulid ad-Diba’i, dan Maulid Syaraf al-Anam. Ketiganya adalah kutipan dari kitab Iqd al-Jawahir karya Muhammad Ibn Hasan al-Barzanji dan al-Burdah karya al-Bushiri.

Adapun karya-karya yang membicarakan sejarah dan asal mula perayaan maulid nabi, dalam artikel ini terdapat lima karya penting yang cukup memberikan informasi. Pertama, Husn al-Maqashid fi Amal al-Maulid karya Jalal ad-Din as-Suyuthi. Kitab ini, di samping membicarakan pembelaan terhadap diperbolehkannya mengadakan perayaan maulid nabi, juga membahas asal mulanya. Kedua, ad-Dur al-Mu'azhzham fi Maulid an-Nabi al-Mu’azhzham karya Abu al-Abbas al-Azafi. Kitab ini merupakan karya tertua yang membicarakan asal mula perayaan maulid nabi (ditulis sekirtar abad VII H./XIII M.). Ketiga, Tarikh al-Ihtifal bi al-Maulid al-Nabawi min Ashr al lslam al-Awwal ild ‘Ashr Faruq al-Awwal karya Hasan as-Sandubi yang terbit pada tahun 1948. Keempat, artikel pada entry “Maulid” tulisan H. Fuchs. Kelima, Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw, karya Nico Kapten. Buku yang terakhir disebut merupakan sebuah disertasi yang menguraikan asal usul penyebaran dan sejarah timbulnya perayaan maulid di Maghrib dan Spanyol Muslim sampai abad ke-10 H./ke-16 M.

0 Response to "Sejarah Awal Mula Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Timur dan Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel