display litra

Batik Tulis dan Batik Cap; Pengertian, Sejarah, Jenis dan Cara Membuatnya Lengkap Dengan Contohnya

A. Batik Tulis dan Batik Cap

1. Batik tulis adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2 hingga 3 bulan. Batik tulis memerlukan waktu yang lama hingga selesai sehingga batik tulis tergolong jenis batik yang nilai jualnya sangat mahal/tinggi karena proses pengerjaannya yang begitu rumit dan lama. 
Batik Tulis dan Batik Cap; Pengertian, Sejarah, Jenis dan Cara Membuatnya Lengkap Dengan Contohnya
Contoh Batik Tulis atau Tradisonal

2. Batik cap adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik yang dibentuk dengan cap (biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2 hingga 3 hari. Batik jenis ini termasuk batik yang jenis pengerjaanya sangat mudah dan simpel waktu pengerjaanya sehingga nilai jualnya juga terjangkau dan mudah di dapatkan di pasaran. 
Batik Tulis dan Batik Cap; Pengertian, Sejarah, Jenis dan Cara Membuatnya Lengkap Dengan Contohnya
Batik Cap
itulah pengertian batik tulis dan batik cap

B. Pengertian Batik

Batik (atau kata batik) berasal dari bahasa Jawa amba yang berarti menulis dan titik. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan malam (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam bahasa Inggrisnya wax-resist dyeing.
Batik Tulis dan Batik Cap; Pengertian, Sejarah, Jenis dan Cara Membuatnya Lengkap Dengan Contohnya
Batik Indonesia
Sumber gambar: Pixabay.com

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan, tetapi ketika ditemukannya batik cap maka laki-laki pun ikut andil dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang dapat dilihat pada corak Mega Mendung, di mana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Ragam corak dan warna batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun, batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar seperti para pedagang asing dan juga para penjajah.

Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat pada batik dan hasilnya adalah corak bunga yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga Tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisional tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya corak-corak tersebut memiliki perlambangan masing-masing.

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Srilanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di Benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Pulau Jawa.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia (Jawa) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan pada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu beliau mengenakan busana batik pada Konferensi PBB.

C. Sejarah Batik

Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa Kerajaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi, kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang pada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun, mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah batik tulis sampai dengan awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah Perang Dunia 1 atau sekitar tahun 1920.

Adapun kaitannya dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa yang merupakan daerah-daerah santri dan kemudian batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang muslim melawan perekonomian Belanda.

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal di luar keraton maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka ke luar keraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing.

Semakin lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga keraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari baik oleh wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedangkan bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

1. Zaman Majapahit

Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majapahit ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulungagung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit yang berkembang di Tulungagung adalah riwayat perkembangan pembatikan di daerah ini dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit.

Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian besar terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat berkembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang bernama Adipati Kalang, dan tidak bersedia tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahit, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan di sekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Kemudian petugas-petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal di wilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung juga membawa kesenian membuat batik asli.

Daerah pembatikan sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Di luar daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Pada akhir abad ke-19 ada beberapa pengrajin batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi, dan sebagainya.

Obat-obat luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu yang dijual oleh pedagang-pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong, Sidoarjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, di mana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojokerto ikut lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan kecil usahanya. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali hingga saat Jepang masuk ke Indonesia dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh kembali. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi di mana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan. Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya cokelat muda dan biru tua. Tempat yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu adalah tempat pembatikan di desa Majan dan Simo. Desa ini juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825.

Meskipun pembatikan dikenal sejak zaman Majapahit, tetapi perkembangan batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah, Surakarta, dan Yogyakarta, pada zaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulungagung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Di dalam berkecamuknya pertempuran antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-pasukan Pangeran Diponegoro maka sebagian dari pasukan-pasukan Kiai Mojo mengundurkan diri ke arah timur dan sampai sekarang bernama Majan. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Majan berstatus desa Merdikan (Daerah istimewa), dan kepala desanya seorang kiai yang statusnya turun-temurun. Pembuatan batik Majan ini merupakan naluri (peninggalan) dari seni membuat batik zaman perang Diponegoro.

Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Sebagai batik setra sejak dahulu kala terkenal juga di daerah Desa Sembung, yang para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Sala yang datang ke Tulungagung pada akhir abad ke19. Hanya sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala yang menetap di daerah Sembung. Selain dari tempat-tempat tersebut juga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan juga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan babarannya batik tulis.

2. Zaman Penyebaran Islam

Riwayat pembatikan di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, yang kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Riwayat Batik disebutkan masalah seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan yang ada sekarang ialah sebuah masjid di daerah Patihan Wetan.

Perkembangan selanjutnya, di Ponorogo tepatnya di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh oleh Kiai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kiai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengaiarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang, dan kesusastraan. Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden Ronggowarsito. Kiai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Keraton Solo.

Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan keraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kiai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. Di samping itu banyak pula keluarga keraton Solo belajar di pesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari keraton menuju ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari ini jika sudah tamat, akan menyumbangkan dharma baktinya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.

Daerah perbatikan lama yang dapat kita lihat sekarang ialah daerah Kauman, yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono, dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain; pohon torn, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kain putihnya juga memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia kira-kira pada akhir abad ke-19.

Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-zo terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia pertama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya, yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal di seluruh Indonesia.

3. Batik Solo dan Yogyakarta

Perjalanan pembatikan di kerajaan-kerajaan Solo dan Yogyakarta sekitarnya pada abad ke-17, 18, dan 19, berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Awalnya batik hanya sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias dengan busana. Namun oleh masyarakat, batik dikembangkan menjadi komoditi perdagangan.

Batik solo terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya, baik batik dalam proses cap ataupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak menggunakan bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dahulu. Polanya tetap antara lain terkenal dengan Sidomukti dan Sidoluruh.

Asal usul pembatikan di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-1 dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah di Desa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga keraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada keluarga keraton lainnya, yaitu istri para abdi dalem dan tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga keraton baik pria maupun wanita mengenakan busana dengan kombinasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat. Rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga keraton kemudian ditiru oleh rakyat yang akhirnya meluas-lah pembatikan ini hingga keluar dari tembok keraton.

Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga raja-raja ataupun antara penjajahan Belanda maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru antara lain ke Banyumas, Pekalongan, dan ke beberapa daerah di Timur seperti Ponorogo, Tulungagung, dan sebagainya. Meluasnya daerah pembatikan ini sampai ke daerah-daerah itu menurut perkembangan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimulai pada abad ke-18. Keluarga-keluarga keraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok Pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu.

Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda, mendesak sang pangeran dan keluarganya serta mengharuskan para pengikutnya untuk meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.

Di daerah timur, batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung. Selain itu juga menyebar hingga ke Gresik, Surabaya, dan Madura, sedangkan ke arah barat batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon.

D. Jenis Batik

1. Batik tulis adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2 hingga 3 bulan.

2. Batik cap adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik yang dibentuk dengan cap (biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2 hingga 3 hari.

E. Cara Pembuatan Batik

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutra, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis menggunakan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda.
Batik Tulis dan Batik Cap; Pengertian, Sejarah, Jenis dan Cara Membuatnya Lengkap Dengan Contohnya

Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah di batik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

Itulah Penjelasan Batik Tulis dan Batik Cap; Pengertian, Sejarah, Jenis dan Cara Membuatnya semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca. terimakasih

0 Response to "Batik Tulis dan Batik Cap; Pengertian, Sejarah, Jenis dan Cara Membuatnya Lengkap Dengan Contohnya"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel