display litra

Bimbingan dan Konseling Sekolah atau Madrasah

Pada artikel ini akan dibahas mengenai bimbingan konseling sekolah, berikut penjelasannya:

BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH ATAU MADRASAH

A. Bimbingan dan Konseling Sekolah

Bimbingan dan konseling sekolah atau madrasah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karier. Bimbingan dan konseling juga memfasilitasi pengembangan peserta didik secara individual, kelompok, dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Di samping itu, bimbingan dan konseling juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik. Dalam bimbingan dan konseling sekolah berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:
Bimbingan dan Konseling Sekolah atau Madrasah
Bimbingan pada siswa


1. Paradigma
Paradigma bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya. Artinya, pelayanan bimbingan dan konseling ini berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan, teknologi pendidikan, serta psikologi yang dikemas dalam kaji-terapan pelayanan bimbingan dan konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik.

2. Visi
Visi bimbingan dan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan. Hal ini dilakukan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah, agar peserta didik berkembang secara optimal, mandiri, dan bahagia.

3. Misi
Misi pendidikan adalah memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan.

Misi pengembangan adalah memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/madrasah, keluarga, dan masyarakat.

Misi pengentasan masalah adalah memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik dengan mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari. (Jamal Ma’mur Asmani, 2010: 133-135).

B. Tujuan Bimbingan dan Konseling Sekolah

Ditinjau dari aspek sekolah, bahwa tujuan bimbingan dan konseling dapat dibagi menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

Bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling sekolah adalah sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (Depdikbud, 2004: 5). Lebih tegas lagi dijelaskan, bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling sekolah di SMP/Mts dan SMA/MA/SMK haruslah dikaitkan dengan pengembangan sumber daya manusia dalam rangka menjawab tantangan kehidupan masa depan, yaitu adanya link and match (kaitan dan padanan). Dengan demikian, maka lebih tegas lagi dijelaskan bahwa tujuan umum layanan bimbingan dan konseling sekolah adalah membantu siswa mengenal bakat, minat, dan kemampuannya, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan pendidikan untuk merencanakan karir yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. (Jamal Ma'mur Asmani, 2010: 50).

Menurut Uman Suherman AS, menjelaskan bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling sekolah adalah agar siswa dapat:

  1. Memahami dan menerima diri secara obyektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.
  2. Memahami tentang kondisi, tuntutan dan irama kehidupan lingkungan yang fluktuatif antara yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, serta mampu meresponsnya secara positif sesuai dengan norma pribadi, sosial, dan ajaran agama yang dianut.
  3. Merencanakan aktivitas penyelesaian studi, perencanaan karier, serta kehidupan di masa yang akan datang.
  4. Mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya serta memanfaatkan kekuatan lingkungan secara optimal.
  5. Menyesuaikan diri, baik dengan tuntutan lingkungan pendidikan, masyarakat, pekerjaan, serta agama yang dianut.
  6. Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapinya dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun dalam melakukan penghambaan kepada Tuhan-Nya. (Uman Suherman AS, 201 l: 16).

Sedangkan tujuan khusus bimbingan dan konseling sekolah adalah untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan yang meliputi tiga aspek, yaitu perkembangan aspek pribadi-sosial, perkembangan aspek belajar, dan perkembangan aspek karir.

Tujuan perkembangan aspek pribadi-sosial dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi yang takwa, mandiri, dan bertanggung jawab. Dalam aspek perkembangan pribadi-sosial, layanan bimbingan dan konseling bertujuan membantu siswa agar:

1. Memiliki kesadaran diri, yaitu menggambarkan penampilan dan mengenal kekhususan yang ada pada dirinya.

2. Dapat mengembangkan sikap positif, seperti menggambarkan orang-orang yang mereka senangi.

  • Membuat pilihan secara sehat
  • Mampu menghargai orang lain
  • Memiliki rasa tanggung jawab
  • Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi
  • Dapat menyelesaikan konflik
  • Dapat membuat keputusan secara efektif.

Tujuan perkembangan aspek belajar dimaksudkan untuk mewujudkan perkembangan pendidikan. Dalam aspek perkembangan belajar, layanan bimbingan dan konseling bertujuan membantu siswa agar:

  • Dapat melaksanakan keterampilan atau teknik belajar secara efektif.
  • Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan.
  • Mampu belajar secara efektif.
  • Memiliki keterampilan dan kemampuan dalam menghadapi evaluasi/ujian.

Tujuan perkembangan aspek karier, layanan bimbingan dan konseling bertujuan membantu siswa agar:

  • Mampu membentuk identitas karier, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan di dalam lingkungan kerja.
  • Mampu merencakan masa depan.
  • Dapat membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier.
  • Mengenal keterampilan, kemampuan, dan minat. (Dewa Ketut Sukardi, 2008: 44-45).

C. Fungsi Bimbingan dan Konseling Sekolah

Ditinjau dari sifatnya, bimbingan dan konseling sekolah mempunyai empat fungsi, yaitu fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi perbaikan, dan fungsi pemeliharaan dan pengembangan. (Dewa Ketut Sukardi, 2008: 42-43). Adapun penjelasannya mengenai fungsi-fungsi tersebut sebagai berikut:

1. Fungsi Pemahaman

Fungsi pemahaman yang dimaksud adalah fungsi dalam layanan bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu, sesuai dengan keperluan pengembangan siswa. Pemahaman ini mencakup beberapa hal, yaitu:

a. Pemahaman tentang diri siswa, terutama oleh siswa sendiri, orang tua, guru, dan guru pembimbing.

b. Pemahaman tentang lingkungan siswa (termasuk di dalamnya lingkungan keluarga dan sekolah), terutama oleh siswa sendiri, orang tua, guru, dan guru pembimbing.

c. Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (termasuk di dalamnya tentang informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan dan/atau karier, dan informasi budaya/ nilai-nilai), terutama oleh siswa.

2. Fungsi Pencegahan

Fungsi pencegahan dalam layanan bimbingan dan konseling adalah merupakan usaha pencegahan terhadap munculnya masalah. Dalam fungsi pencegahan ini layanan bimbingan dan konseling yang diberikan adalah berupa bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. Kegiatan yang berfungsi sebagai pencegahan dapat berupa program orientasi, program bimbingan karier, inventarisasi data, dan sebagainya.

3. Fungsi Perbaikan

Walaupun fungsi pemahaman dan pencegahan telah dilakukan, namun saja siswa masih menghadapi masalah-masalah tertentu. Di sinilah fungsi perbaikan itu berperan, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpecahkannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami siswa.

4. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan

Fungsi pemeliharaan dan pengembangan yang dimaksudkan di sini adalah bahwa dalam layanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat membantu para siswa dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan. Dalam fungsi ini, hal-ha] yang dipandang positif dijaga agar tetap baik dan mantap. Dengan demikian, siswa dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan kondisi yang positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.

Setiap layanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan hendaknya secara langsung mengacu pada salah satu atau pada beberapa fungsi tersebut, agar hasil yang hendak dicapainya secara jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi.

Secara lebih lengkap fungsi layanan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:

a. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.

b. Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya mencegahnya supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, di antaranya: bahaya minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bahaya narkoba, bahayanya pergaulan bebas (free sex), drop out, dan lain sebagainya.

c. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi layanan kembanganan lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel sekolah/madrasah lainnya, secara sinergi, sebagai team work, berkolaborasi atau bekerja sama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan di sini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karya wisata.

d. Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karier. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling dan remedial teaching.

e. Fungsi penyaluran, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan, atau program studi, dan memantapkan penguasaan karier atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan kegiatan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.

f. Fungsi adaptasi, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling dalam membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah/madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi sekolah/madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.

g. Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

h. Fungsi perbaikan, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling untuk membantu konseli, sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan, dan bertindak (berkehendak). Konselor melalukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki perasaan yang tepat, sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.

i. Fungsi fasilitator, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling dalam memberikan kemudahan kepada konseli agar mencapai kemudahan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang pada seluruh aspek dalam diri konseli.

j. Fungsi pemeliharaan, yaitu fungsi layanan bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program yang menarik, rekreatif, dan fakultatif (pilihan), sesuai dengan minat konseli. (Dewa Ketut Sukardi, 2008: 42-43).

D. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling Sekolah

Prinsip layanan bimbingan dan konseling pendidikan/sekolah merupakan paduan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang seyogyanya dipedomni oleh pembimbing/konselor dalam melaksanakan bimbingan dan konseling pendidikan/sekolah agar siswa mampu memahami dan mengembangkan potensinya secara maksimal sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Adapun rumusan prinsip-prinsip layanan bimbingan dan konseling pendidikan/sekolah pada umumnya berkaitan dengan prinsip berkenaan dengan sasaran pelayanan, prinsip berkenaan dengan masalah individu, prinsip berkenaan dengan program pelayanan, dan prinsip berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan. (Priyatno dan Erman Anti, 1999: 218-223). Mengenai penjelasannya masing-masing prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1. Prinsip Berkenaan dengan Sasaran Pelayanan

Sasaran pelayanan bimbingan dan konseling pendidikan/ sekolah adalah siswa, baik secara perorangan maupun kelompok. Para siswa itu sangat bervariasi, misalnya dalam hal umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi keluarga, kedudukan, pangkat dan jabatannya, keterikatannya terhadap suatu lembaga tertentu, dan variasi-variasi lainnya. Berbagai variasi itu menyebabkan siswa yang satu berbeda dari yang lainnya. Masing-masing siswa adalah unik. Secara lebih khusus lagi, yang menjadi sasaran pelayanan pada umumnya adalah perkembangan dan perikehidupan siswa, namun secara lebih nyata dan langsung adalah sikap tingkah lakunya.

Berdasarkan variasi dan keunikan, aspek-aspek pribadi dan lingkungan, serta sikap dan tingkah laku dalam perkembangan dan kehidupannya, maka dirumuskan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling berkenaan dengan sasaran pelayanan sebagai berikut:

a. Bimbingan dan konseling melayani semua siswa, tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, bangsa, agama, dan status sosial ekonomi.

b. Bimbingan dan konseling berurusan dengan sikap dan tingkah laku siswa yang terbentuk dari berbagai aspek kepribadian yang kompleks dan unik. Oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling perlu menjangkau keunikan dan kekomplekan pribadi siswa.

c. Untuk mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan siswa, perlu dikenali dan dipahami keunikan setiap siswa dari berbagai kekuatan, kelemahan, dan permasalahannya.

d. Setiap pola kepribadian yang kompleks seorang siswa mengandung faktor-faktor yang secara potensial mengarah kepada sikap dan pola-pola tingkah laku yang tidak seimbang. Oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling yang bertujuan mengembangkan penyesuaian siswa terhadap segenap bidang pengalaman harus mempertimbangkan berbagai aspek perkembangan Siswa.

e. Meskipun siswa yang satu dan lainnya adalah serupa dalam berbagai hal, perbedaan siswa harus dipahami dan dipertimbangkan dalam rangka upaya yang bertujuan memberikan bantuan atau bimbingan kepada siswa-siswa tertentu, baik mereka itu anak-anak, remaja ataupun orang dewasa.

2. Prinsip Berkenaan dengan Masalah Siswa

Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan siswa tidaklah selalu positif. Faktor-faktor yang pengaruhnya negatif akan menimbulkan hambatan-hambatan terhadap kelangsungan perkembangan dan kehidupan siswa yang akhirnya menimbulkan masalah tertentu pada diri siswa. Masalah-masalah yang seribu satu macam dan sangat bervariasi, baik dalam jenis dan intensitasnya. Secara ideal pelayanan bimbingan dan konseling ingin membantu semua siswa dengan berbagai masalahnya itu. Namun, sesuai dengan keterbatasan yang ada pada pembimbing/ konselor, pelayanan bimbingan dan konseling hanya mampu menangani masalah klien secara terbatas.

3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan masalah siswa tersebut adalah:

a. Meskipun pelayanan bimbingan dan konseling menjangkau setiap tahap dan bidang perkembangan dan kehidupan siswa, namun bidang bimbingan dan konseling pada umumnya dibatasi hanya pada masalah-masalah yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik terhadap penyesuaian dirinya di rumah, di sekolah, serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh kondisi lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.

b. Keadaan sosial, ekonomi dan politik yang kurang menguntungkan merupakan faktor salah satu pada diri siswa, dan hal itu semua menuntut perhatian saksama dari para konselor dalam mengentaskan masalah siswa.

dan dipadukan sejalan dengan program pendidikan dan pengembangan secara menyeluruh.

b. Program bimbingan dan konseling harus Fleksibel, disesuaikan kondisi lembaga (misalnya sekolah), kebutuhan individu dan masyarakat.

c. Program layanan bimbingan dan konseling disusun dan diselenggarakan secara berkesinambungan kepada anak-anak sampai dengan orang dewasa; di sekolah misalnya dari jenjang pendidikan taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

d. Terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling hendaknya diadakan penilaian yang teratur untuk mengetahui sejauh mana hasil dan manfaat yang diperoleh, serta mengetahui kesesuaian antara program yang direncanakan dan pelaksanaannya.

4. Prinsip Berkenaan dengan Pelaksanaan

Pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling baik yang bersifat insidental maupun yang bersifat terprogram, dimulai dengan pemahaman tentang tujuan layanan. Tujuan ini selanjutnya akan diwujudkan melalui proses tertentu yang dilaksanakan oleh tenaga ahli dalam bidangnya, yaitu konselor profesional. Konselor yang bekerja di suatu lembaga yang cukup besar (misalnya sebuah sekolah), sangat berkepentingan dengan penyelenggara program-program bimbingan dan konseling secara teratur dari waktu ke waktu. Kerja sama dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun diluar berbagai tempat ia bekerja perlu dikembangkan secara optimal,

Prinsip-prinsip berkenaan dengan pelaksanaan layanan itu adalah:

a. Tujuan akhir bimbingan dan konseling adalah kemandirian setiap individu. Oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk mengembangkan klien agar mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi setiap kesulitan atau permasalahan yang dihadapinya.

Dalam proses konseling keputusan yang diambil dan hendak dilakukan oleh klien hendaklah atas kemauan klien sendiri, bukan karena kemauan atau desakan konselor.

Permasalahan khusus yang dialami klien harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan khusus tersebut.

Bimbingan dan konseling adalah pekerjaan profesional. Oleh karena itu dilaksanakan oleh tenaga ahli yang telah memperoleh pendidikan dan latihan khusus dalam bidang bimbingan dan konseling.

Guru dan orang tua memiliki tanggung jawab yang berkaitan dengan pelayanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu bekerja sama antara konselor dengan guru dan orang tua amat diperlukan.

Untuk mengelola pelayanan bimbingan dan konseling dengan baik dan sejauh mungkin memenuhi tuntutan individu, program pengukuran dan penilaian terhadap individu hendaknya dilakukan, dan himpunan data yang memuat hasil pengukuran dan penilaian itu dikembangkan dan dimanfaatkan dengan baik. Dengan pengadministrasian instrumen yang benar-benar dipilih dengan baik, data khusus tentang kemampuan mental, hasil belajar, bakat dan minat, dan berbagai ciri kepribadian hendaknya dikumpulkan, disimpan, dan dipergunakan sesuai dengan keperluan.

g. Tanggung jawab pengelolaan program bimbingan dan konseling hendaknya diletakkan di pundak seorang pemimpin program yang terlatih dan terdidik secara khusus dalam pendidikan bimbingan dan konseling, bekerja sama dengan staf dan personel, lembaga di tempat ia bertugas dan lembaga-lembaga lain yang dapat menunjang program bimbingan dan konseling.

h. Penilaian pereodik perlu dilakukan terhadap program yang sedang berjalan. Kesuksesan pelaksanaan program diukur dengan melihat sikap-sikap mereka yang berkepentingan dengan program yang disediakan (baik pihak-pihak yang melayani maupun yang dilayani), dan perubahan tingkah laku mereka yang pernah dilayani.

itulah penjelasan mengenai Bimbingan Konseling Sekolah atau Madrasah semoga artikel ini bermanfaat. terima kasih

0 Response to "Bimbingan dan Konseling Sekolah atau Madrasah"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel